Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Laba Bersih Indofarma (INAF) Tergerus saat Pendapatan Naik, Manajemen Beri Penjelasan

Peningkatan penjualan bersih Indofarma pada 2020 terutama ditopang dari penjualan segmen alat kesehatan dan obat-obatan sesuai dengan strategi turn around management
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 28 April 2021  |  10:35 WIB
PT Indofarma siap memasarkan obat antivirus desrem remdesivir. Istimewa
PT Indofarma siap memasarkan obat antivirus desrem remdesivir. Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten BUMN farmasi PT Indofarma Tbk. (INAF) membukukan penurunan laba bersih pada 2020, meskipun pendapatannya meningkat.

Mengutip laporan keuangan per Desember 2020 menyebutkan INAF membukukan pendapatan Rp1,71 triliun pada 2020. Nilai itu meningkat 26,22 persen year on year (yoy) dari penjualan Rp1,36 triliun pada 2019.

"Peningkatan penjualan bersih tersebut terutama ditopang dari penjualan segmen alat kesehatan dan obat-obatan sesuai dengan strategi turn around management," papar manajemen Indofarma dalam siaran pers.

Beban pokok penjualan mencapai Rp1,31 triliun, naik dari sebebelumnya Rp1,1 triliun. Namun, laba bruto pada 2020 masih meningkat menjadi Rp400,59 miliar dari sebelumnya Rp250,36 miliar.

Setelah dikurangi beban keuangan, laba sebelumn pajak mencapai Rp18,08 miliar pada 2020, naik dari tahun sebelumnya Rp9,74 miliar. Namun, ada peningkatan jumlah pajak penghasilan menjadi Rp18,08 miliar dari sebelumnya Rp1,78 miliar.

Karena itu, laba tahun berjalan INAF tersisa Rp30,02 juta, amblas dari sebelumnya Rp7,96 miliar. Laba bersih INAF pada 2020 pun hanya mencapai Rp27,58 miliar, turun 99,65 persen dari sebelumnya Rp7,96 miliar pada 2019.

Dalam siaran pers, manajemen Indofarma menjelaskan secara operasional perseroan telah berhasil meningkatkan kinerja, baik dari sisi pendapatan maupun dari sisi penghematan biaya, sehingga mampu mendapatkan EBITDA Rp164 miliar pada 2020 dibandingkan 2019 sebesar Rp45 miliar atau tumbuh sebesar 364 persen.

Dengan adanya penerapan kebijakan akuntansi PSAK 71 di tahun 2020, Indofarma membukukan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) sebesar Rp38,50 miliar yang berdampak terhadap tergerusnya laba bersih perseroan.

"Sehingga perseroan hanya membukukan laba bersih sebesar Rp30 juta. Hal tersebut merupakan bagian dari aspek kepatuhan terhadap regulasi PSAK 71 dan tindakan prudent perseroan," papar manajemen INAF.

Strategi INAF dalam melakukan turn around management berhasil meningkatkan kinerja penjualan dan efisiensi biaya-biaya operasional. Di lain pihak, perseroan tetap memastikan terpenuhinya aspek kepatuhan terhadap PSAK 71 secara konsisten, sehingga diharapkan berdampak pada kinerja yang tumbuh secara berkesinambungan.

Dari sisi pengendalian biaya, Indofarma mampu membukukan gross profit margin Rp400,59 miliar pada 2020 atau naik 60 persen dibandingkan dari tahun sebelumnya Rp250,36 miliar.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

BUMN indofarma Kinerja Emiten Kinerja Emiten
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top