Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Asosiasi Baja Dunia Prediksi Pertumbuhan Permintaan pada 2021 dan 2022

World Steel Association memperkirakan bahwa permintaan baja akan tumbuh sebesar 5,8 persen pada tahun 2021 menjadi 1.874,0 juta ton, setelah turun 0,2 persen pada tahun 2020.
Ika Fatma Ramadhansari
Ika Fatma Ramadhansari - Bisnis.com 19 April 2021  |  13:05 WIB
Pabrik Baja Ringan.  - PT Auri Steel Metalindo
Pabrik Baja Ringan. - PT Auri Steel Metalindo

Bisnis.com, JAKARTA – The World Steel Association atau Asosiasi Baja Dunia merilis Short Range Outlook (SRO) untuk tahun 2021 dan 2022.

Pada laman resmi yang dikutip Senin (19/4/2021), World Steel Association memperkirakan bahwa permintaan baja akan tumbuh sebesar 5,8 persen pada tahun 2021 menjadi 1.874,0 juta ton, setelah turun 0,2 persen pada tahun 2020.

Kemudian pada 2022, permintaan baja akan mengalami pertumbuhan lebih lanjut sebesar 2,7 persen menjadi 1.924,6 juta ton.

Perkiraan tersebut dibuat dengan mengasumsi bahwa gelombang kedua atau ketiga dari pandemi Covid-19 yang sedang berlangsung akan stabil pada kuartal II/2021.

Di sisi lain, ada stabilisasi kemajuan terhadap vaksinasi, sehingga memungkinkan kembalinya normalitas secara bertahap di negara-negara pengguna baja.

“Terlepas dari dampak pandemi yang menghancurkan kehidupan dan mata pencaharian, industri baja global cukup beruntung untuk mengakhiri tahun 2020 dengan hanya sedikit kontraksi dalam permintaan baja,” kata Al Remeithi, Ketua Komite Ekonomi baja dunia pada laman resmi Asosiasi Baja Dunia dikutip pada Senin (19/4/2021).

Dia mengomentari prospek tersebut karena pemulihan yang sangat kuat di China, dengan pertumbuhan 9,1 persen. Sementara di bagian dunia lain, permintaan baja mengalami kontraksi sebesar 10 persen.

Sementara itu, Al Remeithi menambahkan di tahun-tahun mendatang, permintaan baja akan pulih dengan kuat, baik di negara maju maupun berkembang, didukung oleh permintaan yang terpendam dan program pemulihan pemerintah.

Namun, untuk sebagian besar negara maju, pengembalian ke tingkat permintaan baja sebelum pandemi akan memakan waktu beberapa tahun ucapnya.

Meskipun pandemi terburuk diharapkan telah berlalu, masih ada ketidakpastian yang cukup besar untuk sisa tahun 2021 Al Remeithi mengingatkan.

Evolusi virus dan kemajuan vaksinasi, penarikan kebijakan fiskal dan moneter yang mendukung, geopolitik, dan ketegangan perdagangan, semuanya dapat mempengaruhi pemulihan yang digambarkan dalam ramalan ini.

Al Remeithi menyampaikan ke depan, perubahan struktural pasca pandemi akan membawa perubahan bentuk permintaan baja. Industri baja akan melihat peluang menarik dari perkembangan pesat melalui digitalisasi dan otomatisasi, inisiatif infrastruktur, reorganisasi pusat kota, dan transformasi energi.

“Semua pada saat yang sama saat industri menanggapi kebutuhan untuk memproduksi baja karbon rendah," kata Al Remeithi.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

komoditas industri baja baja logam
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top