Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Goldman dan PineBridge Melihat Tekanan Terhadap Rupiah Berlanjut

Goldman Sachs Group Inc. mengatakan kenaikan imbal hasil obligasi AS dan penguatan dolar akan terus merugikan aset Indonesia dalam waktu dekat, sementara PineBridge Investments Asia Ltd. mengatakan rupiah akan terus merosot karena risk-off perdagangan global.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 13 April 2021  |  09:18 WIB
Karyawan menunjukan dolar AS di Jakarta, Rabu (3/3/2021). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Karyawan menunjukan dolar AS di Jakarta, Rabu (3/3/2021). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Indonesia menilai rupiah 'sangat undervalued' menyusul penurunan dua bulan terakhir.

Bank investasi dan pengelola uang memprediksi kerugian lebih lanjut akan menghantui rupiah.

Goldman Sachs Group Inc. mengatakan kenaikan imbal hasil obligasi AS dan penguatan dolar yang berpotensi berlanjut akan terus merugikan aset Indonesia dalam waktu dekat, sementara PineBridge Investments Asia Ltd. mengatakan rupiah akan terus merosot karena risk-off perdagangan global dan ketika dana luar negeri membawa pulang dividen.

Loomis Sayles Investment Asia Pte. menilai bearish rupiah dipicu situasi Covid-19.

Rupiah telah merosot 3,7 persen tahun ini, pemain terburuk di Asia yang sedang berkembang setelah baht Thailand karena melonjaknya imbal hasil AS telah menyebabkan arus keluar dana dari aset pasar berkembang.

Mata uang merosot ke level terendah lima bulan di Rp14.620 per dolar AS pada hari Senin (12/4/2021), sebelum ditutup pada Rp14.595 per dolar AS.

"Rupiah adalah salah satu yang paling rentan di antara mata uang pasar berkembang berimbal hasil tinggi di bawah sentimen risk-off," kata Arthur Lau, Kepala Pendapatan Tetap Asia ex-Jepang di PineBridge di Hong Kong.

"Dalam beberapa bulan mendatang, kami memperkirakan pelemahan rupiah akan tetap ada karena dividen musiman dan repatriasi kupon pada April-Mei dan impor musiman yang lebih tinggi pada kuartal kedua."

Mata uang Indonesia dipandang sebagai penentu risiko di negara berkembang Asia karena kepemilikan asing yang relatif tinggi atas aset lokal dan perekonomiannya yang umumnya terbuka.

Penurunan rupiah yang berkepanjangan menunjukkan ada pergeseran yang lebih dalam dari negara-negara berkembang daripada hanya kemunduran dari lonjakan likuiditas tahun lalu.

“Salah satu pertanyaan yang paling sering ditanyakan investor dalam beberapa minggu terakhir adalah apakah sudah waktunya untuk membeli penurunan di pasar lokal Indonesia?” tulis analis Goldman Sachs yang dipimpin oleh Zach Pandl dalam sebuah catatan riset bulan ini.

“Jawabannya adalah 'belum', dalam pandangan kami.”

Goldman mengatakan analisisnya menunjukkan obligasi Indonesia belum berada di wilayah yang murah, dan data AS yang kuat menunjukkan ada potensi imbal hasil Treasury yang lebih tinggi, yang akan semakin negatif untuk aset negara Asia.

Bank Indonesia melihat rupiah rebound karena inflasi yang rendah dan pertumbuhan ekonomi yang membaik. Sementara itu, pembuat kebijakan akan berupaya untuk menstabilkan mata uang tersebut sesuai dengan fundamentalnya, ujar Deputi Gubernur Dody Budi Waluyo pekan lalu.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gonjang Ganjing Rupiah Rupiah obligasi as nilai tukar rupiah

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top