Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Cari Investasi Perlindungan, Reksa Dana Pasar Uang Bisa Jadi Pilihan

Indeks reksa dana pasar uang memimpin dengan imbal hasil 0,89 persen, diikuti oleh reksa dana campuran dengan return 0,25 persen. Sementara itu, reksa dana pendapatan tetap dan reksa dana saham masih suram dengan imbal hasil masing-masing -1,92 persen dan 0,83 persen.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 30 Maret 2021  |  20:00 WIB
ILUSTRASI REKSA DANA. Bisnis - Himawan L Nugraha
ILUSTRASI REKSA DANA. Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA — Di tengah kondisi pasar yang masih volatil sepanjang kuartal pertama tahun ini, reksa dana pasar uang dinilai dapat menjadi pilihan para investor untuk menyelamatkan diri.

Berdasarkan data Infovesta Utama per 29 Maret 2021, sepanjang tiga bulan pertama tahun ini kinerja indeks reksa dana bervariatif.

Indeks reksa dana pasar uang memimpin dengan imbal hasil 0,89 persen, diikuti oleh reksa dana campuran dengan return 0,25 persen. Sementara itu, reksa dana pendapatan tetap dan reksa dana saham masih suram dengan imbal hasil masing-masing -1,92 persen dan 0,83 persen.

Head of Market Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan reksa dana pasar uang memang masih menjadi pilihan paling aman di awal tahun ini, seiring gejolak yang menerpa kelas aset pendapatan tetap dan saham.

Dia menilai kinerja kelas aset obligasi masih terus tertekan sepanjang tahun berjalan, diperparah dengan tren kenaikan yield US Treasury yang ikut mengerek yield SBN sehingga harga obligasi pun terus terkoreksi.

Di kelas aset saham, meski sempat terjadi tren positif, angin yang menerpa indeks harga saham gabungan (IHSG) masih sangat tinggi sehingga volatilitas harga tak dapat dihindari. Alhasil, kinerja reksa dana saham masih sulit untuk benar-benar bangkit kembali.

“Reksa dana pasar uang menjadi yang harus dimiliki investor saat ini, paling nggak investor butuh [reksa dana] pasar uang sekitar 30 persen dari portofolionya, supaya hasil investasinya lebih prudent,” tutur Wawan ketika dihubungi Bisnis, Selasa (30/2/2021)

Pada dasarnya, dia menilai kelas aset saham dan obligasi masih prospektif tahun ini seiring dengan ekspektasi program vaksinasi yang akan mempercepat pemulihan ekonomi dan kinerja emiten, serta meredanya tren kenaikan yield US Treasury.

Akan tetapi, Wawan memperkirakan pasar masih akan cenderung sangat volatil, sehingga investor perlu mengamankan diri, salah satunya dengan menyertakan reksa dana pasar uang dalam portofolionya.

“Secara fundamental harusnya menguat, tapi sambil menunggu itu, karena sekarang masih volatil sekali, baik saham maupun obligasi, idealnya kita pegang pasar uang, sesuatu yang pasti,” tuturnya lagi.

Adapun, jika dibandingkan dengan tahun lalu kinerja reksa dana pasar uang memang tak akan setinggi sebelumnya, mengingat tahun ini suku bunga acuan sudah lebih rendah. Saat ini, suku bunga acuan Bank Indonesia ada di level 3,50 persen.

Wawan memproyeksi imbal hasil reksa dana pasar uang di akhir tahun ini ada di kisaran 3—3,5 persen. Menurutnya, meski terbilang rendah, imbal hasil tersebut masih lebih menarik dibandingkan dengan deposito perbankan.

“Lebih tinggi dari deposito dengan likuiditas yang setara tabungan jadi menurut saya untuk parkir dana sangat menarik, atau untuk hedging investasi yang aman pasar uang,” pungkas dia.

Senada, Chief Investment Officer KISI Asset Management Susanto Chandra mengatakan di tengah pasar yang volatil reksa dana pasar uang dapat dijadikan pilihan bagi para investor untuk memarkirkan dananya terlebih dahulu sebelum masuk ke kelas aset lain.

“Jadi parkir sementara untuk bisa masuk reksa dana saham atau fixed income ketika pasar relatif sudah lebih stabil,” katanya kepada Bisnis, Selasa (30/3/2021)

Selain sebagai wahana parkir dana, untuk jangka panjang, Susanto juga melihat prospek reksa dana pasar uang masih akan baik dikarenakan ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang lebih baik yang akan membuat suku bunga perlahan meningkat di tahun-tahun mendatang.

Dihubungi terpisah, Direktur Avrist Asset Management Farash Farich juga mengatakan sepanjang tiga bulan pertama tahun ini kinerja reksa dana secara umum memang belum begitu cemerlang.

Dia menilai reksa dana saham berbasis kapitalisasi besar cenderung stagnan, reksa dana pendapatan tetap berbasis SBN masih negatif, sedangkan reksa dana pasar uang tetap positif meski memberikan imbal hasil yang tak lebih tinggi dari tahun lalu.

“Jadi kalau investor jangka pendek tetap pasar uang [paling menarik] walau imbal hasilnya tidak tinggi, karena paling likuid juga,” ujar Farash, Selasa (30/3/2021)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

saham reksa dana investasi reksa dana
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top