Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Pasar Tunggu Pernyataan The Fed, Wall Street Variatif

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Dow Jones Industrial Average melemah 0,12 persen pada awal perdagangan ke level 32.910,60.
Marka jalan di dekat New York Stock Exchange (NYSE) di Manhattan, New York City/REUTERS/Andrew Kelly
Marka jalan di dekat New York Stock Exchange (NYSE) di Manhattan, New York City/REUTERS/Andrew Kelly

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat bergerak variatif pada awal perdagangan Selasa (16/3/2021) di tengah optimisme pemulihan ekonomi dan gelolak peluncuran vaksin.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Dow Jones Industrial Average melemah 0,12 persen pada awal perdagangan ke level 32.910,60.

Di sisi lain, indeks S&P 500 menguat 0,23 persen ke 3.978,15 dan indeks Nasdaq Composite menguat 0,77 persen ke level 13.562,10. Indeks melanjukan penguatan bahkan setelah rilis data ekonomi AS yang menunjukkan penjualan ritel turun melampaui perkiraan pada bulan Februari.

Saham Apple Inc memimpin penguatan pada awal perdagangan dengan apresiasi 1,69 persen, saham Microsoft Corp. dan Intel Corp. juga menguat masing-masing 1,31 persen dan 1,25 persen.

Di sisi lain, saham Boeing Co. dan Chevron Corp. memberikan tekanan khususnya pada indeks Dow Jones dengan pelemahan masing-masing 2,31 persen dan 1,84 persen.

Di Eropa, pelaku pasar tampaknya mengabaikan keputusan Jerman, Prancis, dan Italia yang menangguhkan vaksin AstraZeneca Plc menjelang pertemuan para menteri kesehatan regional untuk membahas masa depan vaksin Covid-19.

Kepala investasi Asia Pasifik HSBC Asset Management mengatakan pada dasarnya, fokus investor akan tetap pada pemulihan pertumbuhan dalam beberapa bulan mendatang.

“Kebijakan makro, baik fiskal dan moneter, akan terus mendukung [pertumbuhan],” kata Cecilia, seperti dikutip Bloomberg, Selasa (16/3/2021).

Dengan ekonomi global yang semakin menunjukkan pemulihan dari pandemi, fokus investor kini beralih kepada pernyataaan bank sentral AS Federal Reserve pada hari Rabu. The Fed diperkirakan membahas proyeksi ekonomi baru dan tingkat suku bunga.

Ekspektasi pada pemulihan ekonomi yang lebih cepat telah membantu mendorong inflasi pasar ke level tertinggi sejak 2008. Kenaikan imbal hasil obligasi juga dapat memacu rotasi dari saham-saham yang berorientasi pertumbuhan ke saham dengan valuasi rendah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper