Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Efek Obligasi AS, Yield Surat Utang RI Dinilai Masih Atraktif

Kenaikan yield US Treasury sempat menyentuh level 1,57 persen pada 5 Maret 2021 atau naik sebesar 70,30 persen secara year to date (ytd)
Pialang memperhatikan Yield SUN Indonesia/Antara-Prasetyo Utomo
Pialang memperhatikan Yield SUN Indonesia/Antara-Prasetyo Utomo

Bisnis.com, JAKARTA – Pasar obligasi Indonesia tengah mendapatkan tekanan seiring dengan merangkaknya yield US Treasury dalam beberapa waktu terakhir. Kendati demikian, yield obligasi Indonesia dinilai masih atraktif.

Seperti diketahui, kenaikan yield US Treasury sempat menyentuh level 1,57 persen pada 5 Maret 2021 atau naik sebesar 70,30 persen secara year to date (ytd). 

Dengan naiknya yield US Treasury, imbasnya, yield SBN acuan 10 tahun juga ikut mengalami kenaikan dan sempat menyentuh level tertingginya di sepanjang tahun 2021 di level 6,7 persen pada 23 Februari.

Kendati begitu, real yield obligasi negara Indonesia terbilang masih masih memiliki kinerja cukup baik dibandingkan dengan negara tetangga dan negara berkembang lainnya. Sebab, real yield obligasi negara Indonesia terbilang masih tinggi, yakni tercatat sebesar 5,24 persen. Angka tersebut masih di atas Malaysia, Thailand, Filipina, dan Singapura.

"Dilihat dari inflasi Indonesia yang lebih rendah bahkan cenderung stabil pergerakannya, bahkan inflasi di bawah 2 persen, ini memberikan real yield yang lebih tinggi," kata Head of Research & Maket Information Department PHEI Roby Rushandie dalam acara edukasi Wartawan dengan tema Outlook Pasar Obligasi 2021, Rabu (10/3/2021).

Roby mengatakan potensi peningkatan imbal hasil tersebut nantinya bergantung pada kebijakan bank sentral.  Menurutnya, apabila terdapat upaya tambahan dari bank sentral untuk mengantisipasi US Treasury dapat menjadi sinyal positif bagi obligasi Indonesia.

"Artinya investor asing akan teryakinkan karena ada peredam US Treasury. Saya kira faktor bank sentral jadi kunci [investor] asing mau masuk," jelasnya.

Dia mengatakan inflasi menjadi salah satu indikator risiko bagi investor asing.

Secara nominal imbal hasil obligasi Indonesia, lanjutnya, masih berada di bawah Brasil dan Turki. Namun, karena laju inflasi di negara Turki lebih tinggi, dengani mencapai 15,6 persen maka real yield di negara itu menjadi negatif atau -2,53 persen.

Selain itu, pasar obligasi melemah seiring dengan kenaikan imbal hasil di US treasury yield, akibat ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang tinggi karena stimulus agresif yang akan dilaksanakan oleh Presiden AS Joe Biden. Hal itu, menimbulkan kemungkinan kenaikan suku bunga the Federal Reserve atau The Fed.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper