Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dolar AS Keok Jelang Libur Imlek, Bitcoin Lanjut Cetak Rekor

Pergerakan dolar AS turun tipis terhadap beberapa mata uang utama menjelang periode libur Imlek di beberapa negara Asia.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 12 Februari 2021  |  13:37 WIB
Karyawan menunjukan dolar AS di Jakarta, Rabu (25/11/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Karyawan menunjukan dolar AS di Jakarta, Rabu (25/11/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA — Dolar Amerika Serikat (AS) terbebani data pengangguran Negeri Paman Sam yang lebih lemah dari perkiraan dan pesan dovish dari The Federeal Reserve.

Dilansir dari Antara Jumat (12/2/2021), pergerakan mata uang bergerak terbatas pada kisaran sempit karena liburan di Jepang dan China serta beberapa negara lainnya di Asia.

Data yang dirilis Kamis (11/2/2021) menunjukkan klaim awal untuk tunjangan pengangguran AS berjumlah 793.000 yang disesuaikan secara musiman untuk pekan yang berakhir 6 Februari dibandingkan dengan 812.000 seminggu sebelumnya.

”Laju perbaikan glasial pasar kerja membenarkan bias dovish Federal Reserve yang dapat membuat dolar rentan terhadap peningkatan kelemahan dalam jangka pendek," ujar Analis Pasar Senior di Western Union Business Solutions Joe Manimbo.

Laporan klaim pengangguran mengikuti data pada Rabu (10/2/2021) yang menunjukkan inflasi inti AS bulan lalu adalah nol terhadap ekspektasi pasar 0,2 persen.

Dalam perdagangan Kamis sore waktu setempat, euro naik sekitar 0,1 persen menjadi US$1,2134. Namun, diprediksi ke depan dolar AS akan menjadi lebih baik terhadap euro.

“Potensi pemulihan ekonomi di Eropa terlihat sangat suram saat ini,” jelas Ron Simpson, direktur pelaksana, analisis mata uang global di Action Economics di Tampa, Florida.

Indeks dolar turun sedikit ke 90,393. Sejauh ini, dolar berada di jalur penurunan mingguan terbesarnya sejak sekitar pertengahan Desember 2020.

Akan tetapi, sebelum minggu ini, dolar telah naik lebih dari US$2 sejak Januari karena investor menutup short positions ekstrim pada mata uang tersebut.

Pada Rabu (10/2/2021), Ketua Fed Jerome Powell menegaskan bahwa kerangka kebijakan baru bank sentral dapat mengakomodasi inflasi tahunan di atas 2,0 persen untuk beberapa waktu sebelum menaikkan suku bunga dan memperkuat ekspektasi pasar dari tren dolar AS yang lemah.

Beberapa analis mencatat dolar AS baru-baru ini menjadi lebih sensitif terhadap ekspektasi suku bunga. Dalam setahun terakhir, selera risiko menentukan arah dolar.

Mata uang komoditas seperti dolar Australia dan Selandia Baru juga menguat terhadap greenback. Dolar Australia - dipandang sebagai proksi likuid untuk selera risiko - naik 0,3 persen pada US$0,7749 setelah mencapai rekor tertinggi tiga minggu US$0,772 pada awal sesi.

Di sektor mata uang kripto, bitcoin mencapai rekor lain US$48.481,45 dan terus bergerak menuju US$50.000.

Bitcoin terakhir naik 6,3 persen menjadi US$47.685 atau setelah kabar BNY Mellon menjadi perusahaan terbaru yang merangkul mata uang kripto.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kurs dolar as amerika serikat Kebijakan The Fed bitcoin

Sumber : Antara

Editor : M. Nurhadi Pratomo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top