Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mau Beli Saham IPO? Investor Ritel Disarankan Lewat Pasar Perdana

Membeli saham IPO di pasar perdana dinilai lebih aman ketimbang saat sudah listing di pasar sekunder.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 31 Januari 2021  |  20:37 WIB
Perusahaan perkebunan kelapa sawit, PT FAP Agri Tbk., menjadi emiten pertama yang mencatatkan saham perdana di tahun 2021 melalui skema penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering - IPO.
Perusahaan perkebunan kelapa sawit, PT FAP Agri Tbk., menjadi emiten pertama yang mencatatkan saham perdana di tahun 2021 melalui skema penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering - IPO.

Bisnis.com, JAKARTA – Pasar perdana dinilai lebih aman ketimbang pasar sekunder bagi investor ritel yang ingin mengakumulasikan saham dari emiten yang baru melakukan penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO).

Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan menjelaskan saham IPO yang baru diperdagangkan cenderung memiliki risiko tinggi karena harga bisa naik/turun signifikan.

“Kalau untuk ikut yang IPO, lebih aman masuk di pasar perdana. Ketika sudah listing dan ditransaksikan di pasar sekunder risikonya terlalu tinggi,” kata Alfred kepada Bisnis, Minggu (31/1/2021).

Melihat selama 2—3 tahun terakhir, saham-saham yang baru IPO terpantau bisa naik dan turun dalam level di luar kewajaran.

Misalnya saja harga saham PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) yang meroket 1.261,90 persen menjadi Rp7.150 per Jumat (29/1/2021) sejak dicatatkan pada 6 Januari 2021.

Saham ini pun telah terkena suspensi dari BEI, untuk memberikan waktu kepada investor sebelum memutuskan berinvestasi.

Adapun, kenaikan harga tesebut dinilai Alfred terjadi bukan karena di-pump oleh segelintir pihak. Namun lebih kepada jumlah saham yang ditawarkan kepada publik lebih sedikit dan tidak dapat memenuhi permintaan yang tinggi.

“Lebih kepada faktor supply yang tidak ada, yang selalu menjadi tanggapan pasar itu terkait dengan IPO 2-3 tahun terakhir yang naik kencang di atas harga IPO memang pendistribusiannya tidak normal,” jelas Alfred.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa efek indonesia investor ritel initial public offering
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top