Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Lepas dari Suspensi, Saham Itama Ranoraya (IRRA) Langsung Ngacir

Saham Itama Ranoraya (IRRA) langsugn menguat 10,81 persen di awal perdagangan hari ini, Rabu (13/1/2021).
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 13 Januari 2021  |  09:41 WIB
Jajaran Direksi dan Komisaris PT Itama Ranoraya Tbk. saat seremoni pencatatan perdana saham perseroan di Bursa Efek Indonesia pada Selasa (15/10/2019). - Bisnis - Azizah Nur Alfi
Jajaran Direksi dan Komisaris PT Itama Ranoraya Tbk. saat seremoni pencatatan perdana saham perseroan di Bursa Efek Indonesia pada Selasa (15/10/2019). - Bisnis - Azizah Nur Alfi

Bisnis.com, JAKARTA - Saham PT Itama Ranoraya Tbk. langsung mencuat pada perdagangan hari ini, Rabu (13/1/2021). Saham berkode IRRA itu sempat disuspensi karena mencetak kenaikan harga gila-gilaan.

Saham IRRA langsung menguat 10,81 persen ke level 4.100 hingga pukul 09.05 WIB. Hingga pukul 09.34 WIB, saham IRRA terpantau masih menguat 22 poin atau 5,95 persen ke posisi 3.910.

Total transaksi perdagangan saham IRRA mencapai 62,61 juta lembar dengan nilai transaksi Rp250,69 miliar. Investor asing mencetak net sell Rp12,14 miliar atas saham IRRA. Kenaikan saham IRRA turut menunjang kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mampu kembali ke level psikologis 6.400.

Berdasarkan data RTI, pada sesi pembukaan IHSG menguat 52,74 poin atau 0,88 persen ke level 6.451,78. Di awal perdagangan, 207 sebanyak saham menguat, 75 saham melemah, dan 158 saham stagnan dibandingkan dengan posisi perdagangan 12 Januari 2021.

Analis PT Phillip Sekuritas Anugerah Zamzami mengatakan sebelumnya valuasi beberapa saham farmasi sudah mahal. Dia menyebut price to earning ratio (PER) dan rasio price to Book Value (PBV) sejumlah saham farmasi sudah melambung tinggi dan di luar batas wajar.

“Jika dilihat dari rasio tersebut saham farmasi ini jauh lebih mahal dari beberapa nama saham-saham big caps yang biasa dihargai premium,” ujar Zamzami kepada Bisnis, Selasa (12/1/2021).

Dia menjelaskan bahwa sebelum pandemi Covid-19, likuiditas saham farmasi tidak terlalu tinggi sehingga arus dana atau kenaikan volume yang signifikan sangat berpengaruh ke pergerakan harga.

Oleh karena itu, dia memperingatkan investor terhadap adanya potensi koreksi dari pergerakan saham sektor itu, karena kenaikan harga yang terjadi juga belum disertai dengan adanya perubahan fundamental.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG Vaksin Itama Ranoraya
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top