Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Banyak Katalis Positif, Jangan Kaget Kalau IHSG Bisa Tembus 7.000

Pertumbuhan jumlah uang beredar, likuiditas tinggi, dan era suku bunga rendah menjadi sejumlah faktor yang disebut bakal mendongkrak laju IHSG hingga menembus level 7.000 pada tahun ini.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 12 Januari 2021  |  17:47 WIB
Layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (12/11/2020). Bisnis - Himawan L Nugraha
Layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (12/11/2020). Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Indo Premier Sekuritas memproyeksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa menembus level 7.000 menuju 7.100 pada akhir tahun ini.  Indeks bisa terus melaju karena didukung sejumlah katalis positif.

Kepala Riset Indo Premier Sekuritas Jovent Muliadi memperkirakan pertumbuhan laba bersih per saham (Earning per Share/EPS) sebesar 16 persen – 20 persen pada tahun ini.

Walaupun EPS itu lebih rendah daripada perkiraan sebelumnya sebesar 27 persen – 29 persen, Indo Premier Sekuritas memperkirakan laju IHSG akan ditopang dari sisi ekspansi sejumlah indikator seperti jumlah uang beredar (M2), likuiditas tinggi, dan era suku bunga rendah.

“Target IHSG kami 7.100 untuk 2021 dengan sektor pilihan yaitu perbankan, telekomunikasi, infrastruktur termasuk properti, dan komoditas. Risiko utama tahun ini adalah proses vaksinasi yang tak terlalu cepat,” tulis Jovent dalam riset terbaru, dikutip Selasa (12/1/2021).

Apabila IHSG mampu menyentuh 7.100 pada akhir tahun nanti, hal itu mencerminkan kenaikan sebesar 11,02 persen dibandingkan posisi Selasa (12/1/2021) pada level 6.395.

Jovent mengingatkan bahwa pergerakan IHSG selalu melaju setelah terjadi krisis. Selain dari krisis moneter pada 1997—1998, IHSG belum pernah membukukan imbal hasil negatif selama dua tahun berturut-turut.

IHSG selalu rebound pada tahun setelah terjadi krisis seperti pada 2009 (87 persen) setelah krisis keuangan global 2008 (-51 persen) dan pada 2014 (22 persen) setelah krisis taper tantrum pada 2013 (-1 persen).

Begitu pula pada 2016 (15 persen) ketika pada tahun sebelumnya yaitu 2015 (-12 persen) IHSG tertekan akibat kenaikan harga bahan bakar, dan tentu pada 2019 juga terjadi rebound sebesar 2 persen setelah pada 2018 (-3 persen) pecah perang dagang AS—China.

“Jika melihat sejarah, kami perkirakan IHSG akan mampu berbalik positif tahun ini. Pemulihan EPS, likuiditas yang cukup bersamaan dengan suku bunga rendah, dan vaksinasi menjadi katalis utama tahun ini,” jelas Jovent.

Pemerintah Indonesia telah mengamankan 330 juta dosis vaksin untuk 2021 dan 97 juta dosis untuk 2022. Vaksin itu sebagian besar berasal dari Sinovac sebesar 29 persen.

Adapun, proses vaksinasi rencananya akan dimulai besok Rabu (13/1/2021) dengan prioritas utama diberikan kepada pekerja bidang kesehatan. Sedangkan vaksin untuk masyarakat umum baru akan diberikan pada April 2020 dan akan selesai menjelang akhir tahun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG bursa efek indonesia indo premier securities
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

BisnisRegional

To top