Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Saham Asia Terdongkrak, S&P 500 Pecah Rekor Baru

S&P 500 futures naik 0,1 persen pada pukul 09:03 waktu Tokyo. Kemarin indeks ini ditutup naik 0,3 persen.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 09 Desember 2020  |  08:18 WIB
Bursa Saham Korea Selatan. -  Seong Joon Cho / Bloomberg
Bursa Saham Korea Selatan. - Seong Joon Cho / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Ekuitas Asia naik setelah indeks di Amerika Serikat mencapai rekor baru terdorong harapan stimulus yang meredakan kekhawatiran mengenai lonjakan kasus virus Corona.

Alhasil, perkembangan itu juga berpengaruh ke stabilnya pergerakan dolar AS. Dilansir Bloomberg, Rabu (9/12/2020), Indeks Kospi Korea Selatan naik 0,9 persen hari ini, sementara S&P 500 futures 0,1 persen lebih tinggi pukul 09:03 waktu Tokyo. Kemarin indeks ini ditutup naik 0,3 persen.

Sementara itu, indeks Topix Jepang naik 0,2 persen dan indeks S&P/ASX 200 Australia juga terjerek 0,6 persen.

Di AS, pemimpin Mayoritas Senat Mitch McConnell menyarankan untuk mengesampingkan beberapa masalah yang telah menjadi penghalang untuk paket bantuan.

Sementara Menteri Keuangan Steven Mnuchin mengatakan dia mengajukan proposal bantuan Covid-19 senilai US$916 miliar kepada Ketua DPR Nancy Pelosi. Nasdaq 100 naik untuk 10 hari berturut-turut, reli terpanjang dalam sekitar satu tahun.

Di sisi lain, imbal hasil US Treasury bertahan di sekitar 0,93 persen. Saham Pfizer Inc. melonjak ketika regulator AS memberikan indikasi awal bahwa mereka dapat memberikan otorisasi penggunaan darurat untuk vaksinnya.

Dengan waktu yang semakin singkat menjelang jeda akhir tahun dan kasus Covid-19 di AS yang melampaui 15 juta, investor tetap berharap kesepakatan stimulus AS dapat dicapai.

Sementara itu, indikator sentimen utama untuk saham AS telah mencapai level paling bullish dalam dua dekade. Rasio mingguan Cboe dari volume yang diperdagangkan turun ke level terendah sejak Juli 2000 pekan lalu. Ini menyiratkan posisi ekstrem karena investor melihat ketidakpastian jangka pendek menuju pemulihan global yang berkelanjutan pada 2021.

"Peluangnya ada pada ekuitas dan kredit, dan kita tahu bahwa kita akan diuji lagi tahun depan dalam hal Covid dan masalah lain," kata Richard Lacaille, kepala investasi global di State Street Global Advisors.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bursa Asia dolar as amerika serikat

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top