Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Batu Bara Memanas, Penguatan Saham ITMG dkk Berpotensi Lanjut

Dalam tiga hari perdagangan terakhir saham-saham batu bara berhasil memanas.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 03 Desember 2020  |  05:29 WIB
Angkutan batu bara berbasis rel di Sumatra Selatan. - ptba.co.id
Angkutan batu bara berbasis rel di Sumatra Selatan. - ptba.co.id

Bisnis.com, JAKARTA - Saham pertambangan batu bara dalam beberapa perdagangan terakhir berhasil mencuri perhatian investor. Saham-saham sektor itu berhasil menguat bahkan saat pasar modal diterpa panic selling.

Berdasarkan data Bloomberg, dalam tiga hari perdagangan terakhir saham-saham batu bara berhasil memanas. Bahkan, saat indeks harga saham gabungan (IHSG) dibayangi panic selling pada Senin (30/11/2020), sejumlah saham pertambangan batu bara berhasil kokoh di zona hijau.

Dalam perdagangan tiga hari terakhir, penguatan saham dipimpin oleh saham PT Alfa Energi Investama Tbk. (FIRE) yang naik hingga 81,35 persen.

Kemudian diikuti oleh saham PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA) yang menguat 43,75 persen, PT Borneo Olah Sarana Sukses Tbk. (BOSS) menguat 41,26 persen, dan saham PT Harum Energy Tbk. (HRUM) naik 29,26 persen.

Tidak kalah, saham emiten kapitalisasi besar PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG) juga menguat 25,53 persen, saham PT Indika Energy Tbk. (INDY) naik 9,05 persen, dan PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) menguat 1,66 persen.

Sayang, saham PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) dan PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) stagnan.

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas mengatakan bahwa penguatan saham emiten batu bara didorong oleh kabar China yang sudah menyetujui pembelian batu bara Indonesia sebesar 200 juta ton pada 2021 dengan nilai kesepakatan US$1,46 miliar atau setara Rp20,6 triliun.

Komitmen tersebut tertuang dalam perjanjian kerja sama antara Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI-ICMA) dengan CCTDA (China Coal Transportation and Distribution) pada Rabu (25/11/2020).

Adapun, penandatanganan kerja sama antara APBI dengan CCTDA juga dihadiri oleh anggota APBI yang menjadi eksportir batu bara ke China yaitu PTBA, ITMG, PT Adaro Indonesia entitas usaha ADRO, PT Kideco Jaya Agung entitas usaha INDY, PT Multi Harapan Utama, PT Berau Coal, dan TOBA.

“Kemudian sentimen lainnya, saat ini juga sudah memasuki musim dingin yang berpotensi meningkatkan permintaan,” ujar Sukarno kepada Bisnis, Rabu (2/12/2020).

Sukarno melihat penguatan berpotensi lanjut dan semakin menarik mengingat adanya sentimen lain seperti perkembangan vaksin Covid-19.

Perkembangan vaksin itu akan mendukung pemulihan ekonomi dan aktivitas industri untuk kembali normal yang akan menjadi katalis sangat positif bagi emiten batu bara seiring dengan permintaan yang meningkat.

Namun, kemungkinan koreksi masih dapat terjadi karena kenaikan mayoritas saham batu bara sudah tinggi secara pergerakan teknikal.

“Rekomendasi trading buy atau hold untuk mayoritas emiten batu bara seperti ADRO, HRUM, INDY, ITMG, dan PTBA,” papar Sukarno.

Sementara itu, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andy Wibowo Gunawan menilai komitmen pembelian batu bara Indonesia dari China merupakan buntut dari ketegangan geopolitik yang meningkat antara Negeri Panda itu dengan Australia.

Dengan demikian, itu menjadi sentimen positif bagi saham emiten batu bara dalam negeri meskipun tambahan permintaan dari China itu tidak begitu signifikan.

Selain itu, harga batu bara global juga diperkirakan bergerak lebih tinggi pada pekan ini yang juga akan menjadi sentimen baik bagi saham emiten batu bara.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Rabu (2/12/2020) hingga pukul 13.53 WIB harga batu bara thermal di bursa Zhengzhou untuk kontrak Januari 2021 masih berada di zona hijau, menguat 3,75 persen ke level 697,4 yuan per ton. Sepanjang tahun berjalan 2020, harga telah naik hingga 17,47 persen.

Sementara itu, harga batu bara Newcastle kontrak Januari 2021 pada penutupan perdagangan Selasa (1/12/2020) berada di level US$69,8 per ton, terkoreksi 0,21 persen. Namun, dalam enam bulan terakhir harga telah meroket hingga 16,24 persen.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Harga batu bara acuan (HBA) Desember 2020 ditetapkan sebesar US$59,65 per ton atau naik 7,07 persen dibandingkan HBA November yang sebesar US$55,71 per ton. Adapun, HBA telah merangkak naik selama tiga bulan berturut-turut.

“Oleh karena itu, dalam pandangan kami, ADRO, ITMG, PTBA, dan saham terkait batubara lainnya akan menarik pekan ini,” papar Andy dikutip dari publikasi risetnya, Rabu (2/12/2020).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

batu bara ptba rekomendasi saham adaro indo tambangraya megah
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top