Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Target Pemesanan ST007 Belum Memenuhi Target, Apa Penyebabnya?

Salah satu alasan penerbitan obligasi berbasis investasi syariah tersebut sepi peminat dibandingkan seri obligasi pemerintah lainnya adalah karena sifatnya yang tidak bisa diperdagangkan di pasar sekunder.
 Ilustrasi Sukuk Negara Ritel./JIBI-Nurul Hidayat
Ilustrasi Sukuk Negara Ritel./JIBI-Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Dua hari menjelang akhir masa penawaran, penjualan produk obligasi pemerintah Sukuk Negara Tabungan seri ST007 baru menyentuh angka Rp4,09 triliun.

Angka ini jelas belum memenuhi target pemesanan yang dicanangkan pemerintah yakni sebesar Rp5 triliun.

Realisasi tersebut pun masih berada di bawah penjualan obligasi negara ritel ORI018 pada Oktober lalu yang mencapai Rp12,97 triliun, begitu pula jika dibandingkan dengan penjualan instrumen sukuk ritel yang diterbitkan sebelum ST007 yaitu sukuk ritel seri SR013 yang mencapai Rp25,67 triliun.

Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto mengatakan salah satu alasan penerbitan obligasi berbasis investasi syariah tersebut sepi peminat dibandingkan seri obligasi pemerintah lainnya adalah karena sifatnya yang tidak bisa diperdagangkan di pasar sekunder.

Namun, dia menuturkan kalau prospek obligasi ritel pemerintah sebenarnya masih menarik hingga tahun depan.

“Menurut saya masih menarik. [Hanya saja] sukuk tabungan yang ini tidak jauh jaraknya dengan SBN ritel sebelumnya,” tuturnya kepada Bisnis, Senin (23/11/2020).

Lebih lanjut, Ramdhan menilai imbal hasil obligasi pemerintah ke depannya masih akan terus menurun karena masih banyak negara di luar Indonesia yang memiliki kinerja fundamental baik yang diimbangi dengan suku bunga acuan bank sentral yang masih menarik.

Pun, hal ini diimbangi dengan likuiditas jenis obligasi negaranya yang juga semakin membaik.

“Potensi asing masuk kembali [ke instrumen obligasi ritel pemerintah Indonesia] cukup besar, sehingga demand masih baik,” sambungnya.

Sementara itu, dibandingkan dengan obligasi korporasi, Ramdhan mengatakan bahwa obligasi ritel pemerintah masih jauh lebih likuid diperdagangkan pada saat ini.

Di sisi lain, investor obligasi korporasi juga menghadapi tantangan penurunan rating oleh berbagai lembaga pemeringkat dan performa keuangan beberapa perusahaan yang abu-abu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper