Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Andai Setahun Jokowi-Ma'ruf Tanpa Covid-19, Begini Jadinya Nasib Lantai Bursa

Data Bloomberg menunjukkan pergerakan indeks menguap 17,64 persen dari level 6.191,95 atau setahun setelah Joko Widodo (Jokowi) dilantik sebagai Presiden untuk periode 2019—2024.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 21 Oktober 2020  |  06:32 WIB
Pengunjung berjalan di dekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham di kantor PT Bursa Efek Indonesia (BEI)  di Jakarta, Jumat (25/9/2020). Bisnis - Dedi Gunawan
Pengunjung berjalan di dekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham di kantor PT Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Jumat (25/9/2020). Bisnis - Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA — Indonesia digadang-gadang bisa menjadi salah satu emerging market terbaik di kawasan Asean pada 2020 atau setahun periode pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin. Sayangnya, Covid-19 menyapu rata seluruh bursa dunia tidak terkecuali pasar modal RI.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) parkir di level 5.099,84 pada akhir sesi Selasa (20/10/2020). Data Bloomberg menunjukkan pergerakan indeks menguap 17,64 persen dari level 6.191,95 atau setahun setelah Joko Widodo (Jokowi) dilantik sebagai Presiden untuk periode 2019—2024.

Laju IHSG beberapa bulan pertama pemerintahan Jokowi-Ma’ruf masih mampu bertahan di atas 6.000. Indeks sempat amblas meninggalkan 6.000 pada 28 November 2019 ke 5.953,060 namun kembali perkasa sehari berikutnya.

Sejak saat itu, IHSG melenggang bahkan hingga menyentuh 6.547,87 pada 6 Februari 2020. Posisi itu menjadi level tertinggi indeks selama setahun pasca pelantikan Jokowi-Ma’ruf.

Catatan capaian IHSG pada setahun pertama Presiden Jokowi periode 2019—2024 tidak sebaik setahun pertamanya untuk masa jabatan 2014—2019. Saat itu, IHSG hanya terkoreksi 8,81 persen ke level 4.585,82 pada rentang 20 Oktober 2014—20 Oktober 2015.

Head of Equity Trading MNC Sekuritas Medan Frankie Wijoyo mengatakan masa awal pemerintahan Jokowi periode kedua terbilang sukar. Sejumlah tekanan dihadapi seperti lesunya ekonomi global akibat perang dagang China dan Amerika Serikat serta tragedi PT Asuransi Jiwasraya (Persero).

“Sentimen-sentimen ini mungkin yang menyebabkan IHSG berjalan mendatar di kisaran 6.000-6.300 sepanjang pengujung 2019,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (20/10/2020).

Ujian bagi Presiden Jokowi dan IHSG tidak berhenti. Periode lebih kelam menghampiri pada 2020.

Dunia menghadapi sejarah baru. Kehadiran virus Covid-19 juga turut memporak-porandakan IHSG.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut kinerja IHSG sempat terpuruk ke titik terendah 3.937 pada Maret 2020. Kendati demikian, pergerakan sudah kembali menguat ke posisi 5.126 dengan kapitalisasi pasar Rp5.960 triliun hingga Senin (19/10/2020).

Frankie mengatakan pemerintah sangat gencar dalam menangani Covid-19. Beberapa strategi ditempuh termasuk penyesuaian APBN untuk bidang kesehatan.

Kebijakan untuk membangkitkan ekonomi Indonesia seperti stimulus serta relaksasi pajak dan perkreditan juga dikeluarkan. Sentimen-sentimen dinilai mendapat respons positif investor.

“Walau kasus Covid-19 di Tanah Air belum melandai namun sentimen kebijakan di atas dirasa cukup positif oleh investor  yang tercermin pada kenaikan kembali IHSG ke angka 5.000-an,” imbuh Frankie.

Tanpa Covid-19

Frankie pun coba berandai-andai apabila pandemi Covid-19 tidak terjadi. Menurutnya, Indonesia bisa menjadi salah satu emerging market terbaik di kawasan Asean.

Pemerintahan Jokowi, lanjut dia, sangat gencar dalam membangun pemerataan pembangunan Indonesia seperti infrastruktur, jalan raya dan tol laut. Apalagi, ada wacana pemindahan ibu kota.

“Hal ini yang bakal menarik investor untuk ekspansi dan membangun industri di Indonesia yang dengan infrastruktur yang ada dapat mempercepat dan mengurangi biaya dalam arus barang. Jika inflow kuat, IHSG bisa terangkat dari masa konsolidasinya pada 2019,” paparnya.

Senada, Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee menilai investor asing sejatinya merespons positif pemerintahan Presiden Jokowi periode kedua. Menurutnya, asing cukup percaya dengan perekonomian Indonesia.

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat investor asing memborong saham di dalam negeri pada 2019. Tercatat, net buy atau beli bersih menembus Rp49,19 triliun.

Sayangnya, kondisi berbalik pada 2020. Investor asing angkat kaki dari pasar modal Indonesia.

“Memang selama pandemi, dana asing keluar banyak dari Indonesia dan di dunia juga turun,” ujar Hans.

Data BEI menunjukkan investor asing mencetak net sell atau jual bersih Rp494,33 miliar pada Jumat (16/10/2020). Sepanjang periode berjalan 2020, investor asing membukukan jual bersih Rp46,545 triliun.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengungkapkan investor asing mengkritik keberadaan instrumen hedging di pasar modal Indonesia yang belum lengkap. Menurutnya, instrumen hedging baik mulai dari nilai tukar maupun risiko suku bunga serta hedging default  yang belum begitu banyak.

“Sehingga investor asing ini kalau ada sentimen negatif strateginya pasti di sell off karena tidak ada hedging yang mumpuni. Toh, kalau ada cukup mahal terutama nilai tukar,” ujarnya.

Wimboh menuturkan industri pasar modal mengawali 2020 dengan optimisme. Hal itu sejalan dengan meredanya perang dagang.

Kendati demikian, lanjut dia, ada tamu tidak diundang yakni Covid-19. Akibatnya, IHSG amblas hingga sempat meninggalkan level 4.000.

Namun, dia mengapresiasi kemampuan pasar modal dalam negeri untuk menahan penurunan dan membawa kepercayaan kembali investor. IHSG kini sudah kembali ke level 5.000 dan diyakini akan kembali normal.

Insya Allah kami yakin akan kembali normal sejalan dengan perekonomian,” imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG Indeks BEI 1 tahun jokowi-ma'ruf
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top