Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Dipicu Merger Bank Syariah, Saham BRIS Bergerak Ugal-ugalan

Saham Bank BRI Syariah (BRIS) naik 63,16 persen sepanjang pekan ini dan masuk daftar top gainers, dipicu rencana merger bank syariah.
Rivki Maulana
Rivki Maulana - Bisnis.com 17 Oktober 2020  |  09:11 WIB
Kantor BRIsyariah - brisyariah.co.id
Kantor BRIsyariah - brisyariah.co.id

Bisnis.com, JAKARTA - Saham PT Bank BRI Syariah Tbk. melonjak 63,16 persen dalam sepekan terakhir, 12 Oktober 2020 hingga 15 Oktober 2020.  Saham berkode BRIS melonjak seiring dengan rencana merger dengan bank syariah milik BUMN lain, yaitu Bank Syariah Mandiri dan BNI Syariah.

Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan, saham BRI menguat empat sesi dan terkoreksi satu sesi sepanjang pekan ini. Saham BRIS melonjak dari 855 menjadi 1.395 sepanjang pekan ini.

Sebagaimana diketahui, induk dari BRIS, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. telah meneken conditional merger agreement  (CMA) dengan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. terkait merger BRI Syariah, BSM, dan BNI Syariah. 

BRI Syariah akan menjadi entitas penerima penggabungan atau survivor entity dalam rencana tersebut. Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir mengatakan pemerintah sudah merencanakan dengan matang pembentukan bank umum syariah terbesar pertama di Indonesia. Dengan penduduk mayoritas muslim, potensi perbankan syariah masih sangat besar.

"Keinginan Indonesia memiliki bank umum syariah nasional terbesar pada 2021 merupakan bagian dari upaya dan komitmen pemerintah untuk mengembangkan dan menjadikan ekonomi keuangan syariah sebagai pilar baru kekuatan ekonomi nasional,” jelasnya, Selasa (13/10/2020).

Sentimen merger secara langsung berdampak terhadap pergerakan saham BRIS. Pada 13 Oktober 2020, sehari setelah pengumuman CMA, saham BRIS langsung naik 25 persen atau menyentuh level auto reject atas (ARA).

Berselang satu hari, saham BRIS hampir kembali menyentuh level ARA setelah naik 24,89 persen. Nah, pada 15 Oktober 2020 saham BRIS anjlok 6,76 persen atau hampir menyentuh level auto reject bawah (ARB).

Dengan kata lain, hanya dalam selang satu sesi, saham BRIS bergerak dari level ARA ke level ARB. Pergerakan ugal-ugalan itu terulang pada 16 Oktober 2020.

Saham BRIS langsung anjlok pada pembukaan perdagangan karena turun menyentuh hingga menyentuh level ARB. Sejam sebelum perdagangan ditutup, saham BRIS kembali bergerak dan di injury time perdagangan berhasil melesat 6,49 persen.

Hari itu, saham BRIS diperdagangkan sebanyak 594,46 juta lembar dengan nilai transaksi Rp763,95 miliar dengan net buy asing Rp6,05 miliar. Sepanjang pekan ini, investor asing mencetak net buy saham BRIS Rp22,54 miliar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bri syariah merger bank syariah
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top