Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Obligasi Rp16,4 Triliun Star Energy Bisa Tingkatkan Dividen ke BRPT, Ini Penjelasannya!

Penawaran obligasi akan meningkatkan kemampuan Star Energy untuk memberikan dividen yang lebih stabil kepada pemegang sahamnya.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 15 Oktober 2020  |  20:35 WIB
Pekerja melakukan pemeriksaan rutin jaringan instalasi pipa di wilayah Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Salak yang berkapasitas 377 megawatt (MW) milik Star Energy Geothermal, di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (4/4/2018). - JIBI/Rachman
Pekerja melakukan pemeriksaan rutin jaringan instalasi pipa di wilayah Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Salak yang berkapasitas 377 megawatt (MW) milik Star Energy Geothermal, di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (4/4/2018). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA - Entitas anak usaha PT Barito Pacific Tbk., Star Energy Geothermal Salak, Ltd dan Star Energy Geothermal Darajat II Ltd, menerbitkan green bond senilai US$1,1 miliar yang berhasil mengalami oversubscribed 3,5 kali.

Dengan estimasi kurs Jisdor Rabu (14/10/2020) di posisi Rp14.780, maka penerbitan obligasi US$1,11 miliar tersebut setara dengan Rp16,4 triliun.

Obligasi itu terbagi menjadi dua seri, yaitu seri A senilai US$320 juta dengan kupon sebesar 3,25 persen berjangka waktu 8,5 tahun yang akan jatuh tempo pada bulan April 2029.

Sementara itu, seri B senilai US$790 juta dengan kupon sebesar 4,85 persen berjangka waktu 18 tahun yang akan jatuh tempo pada bulan Oktober 2038. Kedua tahap tersebut akan dicatat pada Singapore Exchange Securities Trading Limited.

Wakil Presiden Direktur Barito Pacific Rudy Suparman mengatakan bahwa penawaran green bond itu berhasil mengalami oversubscribed atau kelebihan permintaan hingga 3,5 kali di tengah ketidakpastian pasar yang disebabkan oleh pandemi Covid-19.

“Keberhasilan penerbitan green bond ini menunjukkan besarnya minat investor terhadap ESG atau investasi hijau, dan tingginya kepercayaan investor pada upaya Indonesia menuju masa depan yang lebih hijau,” ujar Rudy seperti dikutip dari keterangan resminya, Kamis (15/10/2020).

Rudy menjelaskan, perseroan akan terus merintis jalan dan mengembangkan bisnis di sektor energi yang berkelanjutan. Hal itu seiring dengan posisi Indonesia yang merupakan salah satu negara dengan cadangan energi panas bumi terbesar di dunia.

Untuk diketahui, Star Energy Geothermal Group merupakan produsen panas bumi terbesar di Indonesia dengan total kapasitas sebesar 875 MW, yang mengoperasikan tiga operasi panas bumi yaitu Wayang Windu dengan kapasitas 227 MW, Salak 337 MW, dan Darajat 271 MW.

Oleh karena itu, green bond atau obligasi hijau ini akan semakin memperkuat pondasi keuangan entitas usaha Star Energy dan kemampuan perseroan untuk ekspansi di sektor geothermal pada masa mendatang.

“Perseroan akan terus mendorong investasi dalam teknologi yang membantu mengurangi emisi karbon, meningkatkan energi berkelanjutan, dan mempromosikan circular economy di Indonesia,” papar Rudy.

Selain itu, penawaran obligasi ini pun akan meningkatkan kemampuan Star Energy untuk memberikan dividen yang lebih stabil kepada pemegang sahamnya.

Berdasarkan laporan keuangan Barito Pacific, emiten berkode saham BRPT itu menggenggam 66,67 persen porsi kepemilikan saham terhadap Star Energy.

Adapun, Star Energy akan menggunakan dana hasil emisi obligasi itu untuk pembayaran kembali (repayment) pinjaman yang ada, biaya yang terkait dengan repayment tersebut, pendanaan DSRA dan MMRA, serta kebutuhan perusahaan lainya yang berkaitan dengan operasi panas bumi Salak dan Darajat.

Lembaga pemeringkat internasional pun telah memberikan rating investment grade untuk green bond yang diterbitkan Stary Energy itu. Fitch Ratings telah menyematkan peringkat BBB- dengan outlook stabil, sedangkan Moody’s Investor Service menyematkan peringkat Baa3 dengan outlook stabil.

Sementara itu, Group CEO Star Energy Geothermal Group Hendra S. Tan mengatakan bahwa penawaran green bond 2020 oleh Star Energy Geothermal Salak, Ltd dan Star Energy Geothermal Darajat II, Limited adalah yang terbesar yang pernah dihimpun oleh Star Energy Geothermal Group hingga saat ini.

Sebelumnya,Star Energy Geothermal Group melalui Star Energy Geothermal (Wayang Windu) Limited telah menerbitkan Green bonds senilai US$580 juta yang dijamin dengan tenor 15 tahun pada medio April 2018.

“Kami sangat mengapresiasi minat yang tinggi dari investor global karena ini menunjukkan kepercayaan yang diberikan dalam tata kelola dan kemampuan operasional Star Energy. Oversubscribed 3,5 kali menunjukkan bahwa investor sangat ingin mendukung perubahan progresif di Indonesia menuju sektor energi yang lebih ramah lingkungan,” papar Hendra seperti dikutip dari keterangan resminya.

Di sisi lain, Credit Suisse, DBS Bank Ltd dan Deutsche Bank merupakan Joint Global Coordinator untuk transaksi ini, dan didampingi oleh Barclays sebagai Joint Bookrunners dan BPI Capital sebagai Co-Manager.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

star energy geothermal barito pacific green bond
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top