Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Dibayangi Lonjakan Inflasi, Bursa India Tetap Menguat

Perdagangan saham di India hari ini diwarnai oleh lonjakan inflasi di tengah menurunnya kepercayaan konsumen. Menurut data yang dirilis pada Senin kemarin, inflasi di India tercatat mencapai 7,34 persen pada bulan lalu.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 13 Oktober 2020  |  12:39 WIB
Gedung Bombay Stock Exchange - Bloomberg
Gedung Bombay Stock Exchange - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham India melanjutkan tren kenaikan di tengah terhentinya uji coba vaksin Covid-19 Johnson & Johnson dan lonjakan inflasi.

Dilansir dari Bloomberg,  Selasa (13/10/2020), indeks S&P BSE Sensex terpantau menguat 0,2 persen ke posisi 40.684,98 hingga pukul 09.48 waktu Mumbai, India setelah sempat anjlok 0,3 persen karena pemberhentian sementara uji coba vaksin Covid-19 oleh Johnson & Johnson.

Sementara itu, indeks Nifty 50 juga terpantau naik 0,2 persen seiring dengan kegiatan perdagangan yang berjalan normal setelah pemadaman listrik yang terjadi di Mumbai Senin kemarin. Kedua indeks telah mendekati performa sebelum pandemi virus corona yang ditopang dengan masuknya dana asing sebesar US$580 juta ke pasar saham

Sebanyak 15 dari 19 indeks subsektor yang dikumpulkan oleh BSE Ltd mengalami kenaikan yang mayoritas dimotori oleh pergerakan saham perusahaan bahan-bahan baku produksi. Saham Infosys menjadi motor utama kenaikan indeks saham Sensex dengan kenaikan 0,6 persen.

Sementara itu, saham ICICI Bank Ltd mencatatkan penurunan valuasi saham terbesar pada hari ini dengan koreksi 2,1 persen.

Perdagangan di India hari ini diwarnai oleh lonjakan inflasi di tengah menurunnya kepercayaan konsumen. Menurut data yang dirilis pada Senin kemarin, inflasi di India tercatat mencapai 7,34 persen pada bulan lalu.

Hal ini berpotensi membuat bank sentral mempertahankan tingkat suku bunga acuannya lebih lama. Sementara itu, pemerintah telah mengucurkan paket stimulus sebesar US$6,6 miliar untuk meningkatkan permintaan konsumen dan investasi pada perekonomian.

“Pergerakan pasar India sejalan dengan wilayah lain di Asia, dengan katalis negatif berupa inflasi yang tinggi dan GST yang  menemui jalan buntu,”ujar Deepak Jasani, head of retail research HDFC Securities Ltd.

Adapun pertemuan komite pajak barang dan jasa (goods and services tax/GST) India gagal mencapai kata sepakat karena sejumlah negara bagian menginginkan pemerintah pusat untuk melakukan pinjaman dari market untuk menjembatani shortfall penerimaan pajak.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

india Vaksin
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top