Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Dorongan Saham Teknologi Bikin Wall Street Melesat

Pada penutupan perdagangan Senin (12/10/2020), Dow Jones 28837,52 naik +0,88% persen, S&P 500 3534,22 naik +1,64 persen, dan NASDAQ 11876 naik +2,56 persen.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 13 Oktober 2020  |  05:11 WIB
Wall Street. - Bloomberg
Wall Street. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Bursa Amerika Serikat kompak mengalami penguatan seiring dengan kenaikan saham-saham teknologi raksasa.

Pada penutupan perdagangan Senin (12/10/2020), Dow Jones 28837,52 naik +0,88% persen, S&P 500 3534,22 naik +1,64 persen, dan NASDAQ 11876 naik +2,56 persen.

Realiance Sekuritas dalam publikasi risetnya menyampaikan saham AS naik ke level tertinggi hampir enam minggu di tengah reli di beberapa perusahaan teknologi terbesar dunia. S&P 500 memperpanjang kenaikan ke hari keempat dan Nasdaq 100 membukukan kenaikan terbesar sejak April setelah melonjak sebanyak 4,1 persen.

Setelah mengalami koreksi bulan lalu, indeks teknologi memperpanjang lonjakan dari posisi terendah tahun ini menjadi hampir 75 perse. Investor sekali lagi kembali ke perusahaan dengan uang tunai yang dapat berkembang jika pemulihan ekonomi melambat.

Prospek untuk segera mengakhiri kebuntuan atas paket stimulus baru memudar Senin dengan anggota DPR diberitahu untuk tidak mengharapkan tindakan apa pun minggu ini dan banyak Senat Partai Republik menolak proposal Gedung Putih untuk kesepakatan.

Dari pasar komoditas, minyak turun paling tajam dalam lebih dari seminggu dengan produksi Teluk Meksiko mulai dilanjutkan dan Libya membuka kembali ladang terbesarnya.

Harga minyak WTI turun 2,9 persen, jatuh ke level terendah dalam seminggu dan menembus rata-rata pergerakan 100 hari sebagai tanda tekanan jual lebih lanjut ke depan. Tolok ukur global Brent berjangka menetap di bawah rata-rata pergerakan 100 hari dan 200 hari.

China telah menangguhkan pembelian batu bara Australia, menurut orang-orang yang mengetahui perintah tersebut, karena Beijing terus mengontrol impor bahan bakar dengan ketat di tengah hubungan politik yang memburuk dengan Canberra.

Pembangkit listrik dan pabrik baja China telah secara lisan diberitahu untuk segera berhenti menggunakan batu bara Australia, kata orang-orang tersebut, meminta untuk tidak disebutkan namanya karena masalah tersebut bersifat pribadi.

Pelabuhan juga telah diberitahu untuk tidak membongkar muatan batubara Australia, kata salah satu sumber. Administrasi bea cukai China belum bersedia memberikan komentar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa as wall street stimulus
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top