Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Berpotensi Gagal Bayar Utang, Saham Trikomsel (TRIO) Disuspensi BEI

BEI menerapkan suspensi atas saham Trikomsel Oke (TRIO) karena kemampuan perusahaan itu dalam mempertahankan kelangsungan usaha diragukan.
Rivki Maulana
Rivki Maulana - Bisnis.com 05 Oktober 2020  |  15:18 WIB
/id.wikipedia.org
/id.wikipedia.org

Bisnis.com, JAKARTA - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menerapkan suspensi atau penghentian sementara perdagangan saham PT Trikomsel Oke Tbk. mulai hari ini, Senin (5/10/2020) hingga waktu yang belum ditentukan.

Berdasarkan Pengumuman No.Peng-SPT-00022/BEI.PP2/10-2020 yang dilansir BEI hari ini, suspensi saham berkode TRIO dilakukan keraguan pada kemampuan Trikomsel dalam mempertahankan kelangsungan usaha. 

Hal ini merujuk pada opini tidak memberikan pendapat atau disclaimer pada laporan keuangan per 31 Desember 2019 dan 31 Desember 2018. Dengan kata lain, TRIO sudah dua kali mendapat opini disclaimer dari auditor.

Menurut BEI, opini tidak menyatakan pendapat pada laporan keuangan menjelaskan ketidakmampuan Trikomsel untuk melunasi utang yang akan jatuh tempo.

"Sehingga memberikan indikasi adanya suatu ketidakpastian material yang dapat menyebabkan keraguan signifikan atas kemampuan Perseroan dan entitas anak untuk mempertahankan kelangsungan usaha," tulis BEI. 

Setelah saham TRIO disuspensi, BEI  meminta kepada pihak yang berkepentingan untuk selalu memperhatikan keterbukaan informasi

yang disampaikan oleh Trikomsel.

Sekadar informasi, sebelum disuspensi, saham Trikomsel sudah tertidur cukup lama. Sejak awal tahun ini, saham Trikomsel tidak tidak bergerak. 

Berdasarkan data Bloomberg, saham TRIO terakhir kali bergerak pada 19 Juli 2019 dengan harga penutupan 426. Total saham yang dimiliki publik mencapai 2,16 miliar lembar atau 8,33 persen dari total saham TRIO. Adapun kapitalisasi saham mencapai Rp11 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan Trikomsel per 31 Desember 2019, perseroan menderita kerugian sebesar Rp115,11 miliar. Di samping itu juga terdapat defisiensi modal sebesar Rp3,7 triliun.

Dikutip dari opini auditor Gideon Adi & Rekan, Trikomsel dan entitas anak usaha mengalami kekurangan arus kas untuk operasi. Trikomsel disebut tidak memiliki kemampuan untuk melunasi utang yang jatuh tempo. Hal itu antara lain menjadi basis untuk untuk Opini Tidak Menyatakan Pendapat.

"Kami tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat untuk menyediakan suatu basis bagi opini audit," tulis auditor dalam laporan auditor independen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

suspensi trikomsel
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top