Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

AS Senggol Korporasi China, Bursa Asia Merah Lagi

Bursa Jepang, China, Korea, dan Hong Kong kompak mengalami koreksi pada perdagangan hari ini, Jumat (7/8/2020).
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 07 Agustus 2020  |  14:24 WIB
Tokyo Stock Exchange. - Bloomberg
Tokyo Stock Exchange. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja Bursa Asia melempem pada akhir perdagangan Jumat (7/8/2020).  Pelemahan dipimpin oleh anjloknya harga saham emiten teknologi di China setelah AS berencana melarang transaksi yang terkait dengan WeChat.

Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat (7/8/2020) pukul 14.07 WIB, indeks Shanghai Composite melemah 0,88 persen dan indeks Hang Seng turun 1,96 persen. Pelemahan didorong oleh penurunan saham operator WeChat yaitu Tencent Holdings Ltd. hingga lebih dari 10 persen. Sementara indeks Topix di Jepang melemah 0,20 persen dan indeks Kospi di Korea Selatan menguat 0,39 persen.

Chief Global Markets Strategist AxiCorp Stephen Innes mengatakan perintah eksekutif untuk TikTok di AS dan sejumlah larangan dari Pemerintah AS untuk WeChat telah membawa tekanan baru di pasar.

“Semua itu bisa saja pertanda untuk hal yang baru, khususnya dalam perkembangan perundingan dagang [AS] dengan China,” kata Innes seperti dikutip Bloomberg, Jumat (7/8/2020).

Adapun, Presiden AS Donald Trump telah menandatangani perintah eksekutif yang melarang masyarakat AS melakukan bisnis dengan WeChat, TikTok, dan aplikasi lainnya yang dimiliki China mulai 45 hari dari sekarang.

Padahal, Bursa di AS sempat menguat pada akhir perdagangan Kamis (7/8/2020) merespons sentimen positif terkait dengan stimulus fiskal yang akan diluncurkan pemerintah federal.

Sebelumnya Trump menegaskan bahwa pemerintah AS harus mendapatkan persentase saham lebih besar dari penjualan aplikasi berbagi video TikTok, yang dimiliki oleh raksasa teknologi China ByteDance. Pernyataan tersebut dilayangkan setelah Presiden Trump mengancam akan mendepak bisnis TikTok di AS jika tidak dijual pada 15 September 2020.

"Pemotongan akan datang dari penjualan [saham], apa pun angkanya", ujar Trump dalam briefing di Gedung Putih.

Menurutnya, pemerintah harus mendapatkan persentase saham yang sangat besar dari harga akuisisi tersebut. Seperti analogi pemilik dan penyewa. Tanpa penyewa, pemilik tidak memiliki nilai. "Saya pikir itu sangat adil," kata Trump seperti dilansir South Morning China Post.

“Dan kami tidak ingin ada masalah keamanan dengan China. Itu harus menjadi perusahaan Amerika, itu harus menjadi sekuritas Amerika, harus dimiliki di sini,” tambahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bursa Asia china amerika serikat
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top