Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Anak Usaha Pelindo II Bagi Dividen Rp101 Miliar

Jumlah dividen yang akan dibagikan PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk. mencapai 75 persen dari laba bersih tahun buku 2019.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 05 Agustus 2020  |  20:07 WIB
Petugas mengatur alur mobil-mobil yang siap diekspor di Dermaga PT Indonesia Kendaraan Terminal, Jakarta, Selasa (12/2/2019). - ANTARA/Akbar Nugroho Gumay
Petugas mengatur alur mobil-mobil yang siap diekspor di Dermaga PT Indonesia Kendaraan Terminal, Jakarta, Selasa (12/2/2019). - ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA – PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk. (IPCC) menetapkan 75 persen laba bersih tahun 2019 akan dibagikan sebagai dividen yang akan dibagikan kepada pemegang saham.

Manajemen IPCC menetapkan dividen 2020 sebesar Rp101,47 miliar atau 75 persen dari laba bersih sebesar Rp135,30 miliar. IPCC telah membayarkan dividen sebesar Rp63,40 miliar pada Januari 2020.

Adapun sisanya sebesar Rp38,07 miliar akan dibayarkan oleh perseroan pada 7 September. Dengan mengacu kepada keputusan tersebut maka dividen yang akan dibayarkan setara dengan nilai Rp20,94 per lembar saham.

Sebelumnya, IPCC telah membayarkan dividen sebesar Rp34,87 per lembar saham pada Januari. Dengan begitu total dividen yang diberikan IPCC kepada para pemegang saham ialah sebesar Rp55,81 per lembar sahamnya.

Manajemen memutuskan untuk menahan laba bersih sebesar Rp31,81 miliar. Selain itu, anak usaha PT Pelindo II (Persero)  tersebut juga menyisihkan Rp2 miliar sebagai cadangan wajib sesuai undang-undang.

Direktur Komersial Indonesia Kendaraan Terminal Arif Isnawan mengatakan bahwa perseroan mengalami dampak yang berat akibat pandemi covid-19. Pasalnya pada semester I/2020, anak usaha BUMN itu membukukan kerugian Rp237,78 juta.

“Kami mengalami kerugian pada semester I/2020 karena pada April dan Mei kapasitas terpakai di terminal hanya 25 persen sampai 30 persen. Selain itu pemberlakukan PSAK 71 dan 73 juga berdampak besar,” katanya pada Selasa (4/8/2020).

Arif menambahkan standar akuntansi anyar itu juga membuat biaya amortisasi perseroan membengkak menjadi Rp35 miliar. Menurutnya hal itu membuat beban tambahan di catatan keuangan menjadi besar. Biaya amortisasi meliputi biaya sewa dan lainnya.

Oleh sebab itu perseroan dalam waktu dekat akan mengumumkan revisi target pendapatan dan laba bersih. Hal itu sejalan dengan proyeksi dari produsen otomotif yang berencana mengurangi produksi.

“Pasti akan ada revisi target dalam waktu dekat. Kami telah melakukan roadshow ke produsen mobil yang menyatakan akan ada koreksi produksi dan pasti berimbas pada pendapatan kami,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dividen IPCC Terminal
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top