Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Principal AM Selektif Memilih Obligasi Korporasi

Chief Investment Officer Principal AM Ni Made Muliartini menyampaikan pihaknya masih berhati-hati dalam memilih obligasi yang diterbitkan oleh korporasi yang bisnisnya terdampak pandemi Covid-19.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 03 Agustus 2020  |  11:52 WIB
ILUSTRASI OBLIGASI. Bisnis - Himawan L Nugraha
ILUSTRASI OBLIGASI. Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA — Principal Asset Management selektif dalam memilah surat uang korporasi yang akan dijadikan underlying asset produk reksa dana pada semester II/2020. Obligasi dari sektor keuangan, properti, dan konstruksi termasuk yang dihindari.

Chief Investment Officer Principal AM Ni Made Muliartini menyampaikan pihaknya masih berhati-hati dalam memilih obligasi yang diterbitkan oleh korporasi yang bisnisnya terdampak pandemi Covid-19.

“Untuk obligasi korporasi, kami masih selektif dan menghindari nama-nama dari multifinance, properti, dan konstruksi,” kata Ni Made kepada Bisnis baru-baru ini.

Dari sisi kualitas kredit, Principal AM lebih banyak mengalokasikan investasi ke obligasi korporasi dengan peringkat AAA yang memiliki likuiditas tinggi di pasar sekunder.

Untuk obligasi pemerintah, Ni Made melanjutkan, Principal AM saat ini fokus ke Surat Utang Negara (SUN) bertenor 5—10 tahun dengan alokasi pada tenor panjang yang sangat minimal.

“Untuk obligasi masih terlihat menarik dikarenakan inflasi yang sangat rendah dalam beberapa bulan belakangan ini,” ujarnya.

Adapun, inflasi yang rendah menandakan kekuatan ekonomi yang lemah. Ditambah lagi, saat ini perekonomian berada di bawah kapasitas tenaga kerja penuh (full employment).

Ni Made meyakini inflasi belum bisa terdongkrak dengan cepat ke atas 3 persen karena realisasi belanja pemerintah masih sangat jauh dari target. Dengan demikian, dampaknya ke inflasi akan minimal meskipun terjadi kenaikan tingkat uang yang beredar.

Selanjutnya, skema burden sharing antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia diperkirakan turut menjaga ketahanan pasar obligasi dan nilai tukar rupiah.

“Real yield saat ini masih cukup menarik yakni sekitar 5 persen dengan rata-rata 3 tahun di 4 persen,” tutur Ni Made.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rekomendasi obligasi korporasi
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top