Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sambut Vaksin Covid-19, Pasar Obligasi Bangkit Duluan

Sentimen Covid-19 memang masih menjadi tantangan tersendiri di pasar. Namun, perkembangan uji coba vaksin diharapkan mampu meredakan kekhawatiran investor.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 03 Agustus 2020  |  05:16 WIB
Pialang memperhatikan Yield SUN Indonesia - Antara/Prasetyo Utomo
Pialang memperhatikan Yield SUN Indonesia - Antara/Prasetyo Utomo

Bisnis, JAKARTA — Perbaikan kondisi pasar obligasi tidak akan menunggu kehadiran vaksin Covid-19. Sejak awal kuartal kedua, para investor terpantau mulai masuk lagi ke pasar obligasi pemerintah dan yield surat utang negara (SUN) tenor 10 tahun telah kembali ke level sebeum pandemi.

Mengutip data worldgovernmentbonds.com pada Minggu (2/8/2020), yield SUN tenor 10 tahun tercatat sebesar 6,90 persen dengan spread terhadap Treasury AS tenor 10 tahun sebesar 637,6 bps.

Sementara itu, Credit Default Swap (CDS) 5 tahun berada pada level 115,97 yang mencerminkan probabilitas default sebesar 1,93 persen.

Selanjutnya, data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan menunjukkan kepemilikan asing di Surat Berharga Negara (SBN) domestik yang dapat diperdagangkan naik Rp15,29 triliun menjadi Rp942,06 triliun per 28 Juli 2020 dari Rp926,77 triliun pada 1 April 2020.

Head of Fixed Income BNI Sekuritas Ariawan mengatakan sentimen positif di pasar surat utang khususnya obligasi pemerintah sudah dimulai sejak kuartal II/2020 dan diharapkan berlanjut hingga sisa tahun ini.

Hal itu tercermin dari pergerakan yield SUN bertenor 10 tahun yang kembali ke bawah 7 persen setelah menyentuh titik tertinggi 8,3 persen pada Maret 2020.

Ariawan mengakui sentimen Covid-19 memang masih menjadi tantangan tersendiri di pasar. Namun, perkembangan uji coba vaksin diharapkan mampu meredakan kekhawatiran investor.

“Bond market tidak akan menunggu sampai vaksin ada, ketika ada sinyal positif obat vaksin ditemukan maka pasar akan merespon positif,” kata Ariawan pekan lalu.

Sejauh ini, Ariawan menilai tidak akan ada lagi tekanan signifikan yang akan menerpa pasar obligasi hingga akhir tahun. Rupiah pun diperkirakan stabil pada rentang Rp14.000—Rp15.000 yang bakal turut menjaga yield obligasi.

Selanjutnya, prospek penurunan suku bunga acuan dari Bank Indonesia juga akan membawa angin segar ke pasar obligasi. Sejak awal tahun, BI telah menurunkan suku bunga sebanyak 4 kali. Saat ini, tingkat 7-Day Reserve Repo Rate tercatat 4 persen dengan kurs tengah mata uang pada 30 Juli 2020 senilai Rp14.653 per dolar AS.

“Dengan tekanan yang semakin mereda, ini akan menjadi sentimen positif ke pasar. Target yield moderat 6,7 persen dan optimistis 6,2 persen, jauh lebih rendah dari level sekarang 6,9 persen,” kata Ariawan pekan lalu.

Ariawan optimistis aliran modal asing (foreign capital inflow) juga bakal berlanjut hingga akhir tahun. Adapun spread yield SUN dengan US Treasury yang masih lebar akan menambah daya tarik pasar obligasi Tanah Air.

Dari sisi lelang SUN, penyerapan juga disebut akan terbantu oleh mekanisme burden-sharing yang sudah disepakati oleh Kemenkeu dan BI. Adapun Bank Indonesia akan menanggung pembiayaan untuk public goods melalui pembelian SBN dengan mekanisme private placement.

BI juga akan menjadi stand by buyer untuk membeli SBN di pasar dengan kontribusi sebesar selisih bunga pasar dengan BI reverse repo rate 3 bulan dikurangi 1 persen.

“Dengan kondisi seperti ini, harusnya penerbitan SUN lewat lelang kemungkinan besar dapat tercapai. Lelang bukan hal yang sulit,” tutur Ariawan.

Senada, Economist PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C. Permana meyakini dengan kondisi yang mulai membaik hingga akhir tahun nanti yield SUN 10 tahun bakal mampu mendarat di kisaran 6,5 persen—6,7 persen.

“Kalau kuartal III/2020 sudah lumayan aman dan investor asing masuk, dengan kemungkinan suku bunga turun, demand akan menyesuaikan,” ujar Fikri.

Adapun, Fikri mengingatkan bahwa risiko perang dagang AS—China dan sengketa di Hong Kong tetap dapat membuat investor berhati-hati untuk masuk ke pasar negara berkembang (emerging markets). 

Irwanti, Direktur Investasi Schroders Indonesia, melihat investasi di pasar obligasi masih akan memberikan peluang kinerja yang lebih baik pada kuartal III/2020 terutama setelah hadirnya kebijakan yang lebih konkret mengenai pembiayaan defisit anggaran.

“Skema burden sharing juga memberi kepastian kepada investor sehubungan dengan besarnya penerbitan obligasi  obligasi pemerintah di paruh kedua 2020,” ujar Irwanti.

Dirinya melanjutkan bahwa setelah pasar SUN mengalami kenaikan cukup signifikan pada kuartal II akibat dorongan likuiditas perbankan di sisi lain masih ada kebutuhan pembiayaan pemerintah yang tinggi.

Adapun pernyataan dovish dari Bank Sentral AS (Federal Reserve) akan diikuti oleh BI. Hal itu akan membuat kinerja pasar obligasi lebih terjaga di tengah kekhawatiran penyebaran Covid-19 gelombang kedua dan ketegangan geopoltik.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi surat utang negara
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top