Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kinerja Emiten Mengecewakan, Bursa AS Berguguran

Beberapa perusahaan kelas kakap bakal melaporkan hasil kinerja keuangan pada pekan ini. Investor tengah mencari petunjuk apakah gelombang kedua penyebaran virus bakal menggagalkan harapan pembukaan kembali perekonomian di beberapa negara.
Rivki Maulana
Rivki Maulana - Bisnis.com 29 Juli 2020  |  05:57 WIB
Pedagang bekerja di lantai bursa New York Stock Exchange. -  Michael Nagle / Bloomberg
Pedagang bekerja di lantai bursa New York Stock Exchange. - Michael Nagle / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Bursa saham Amerika Serikat anjlok seiring dengan musim laporan keuangan emiten yang mengecewakan di tengah kenaikan kasus infeksi baru virus corona (Covid-19).

Dilansir dari Bloomberg, indeks S&P 500 turun setelah berbagai emiten melaporkan kinerja yang di bawah ekspektasi. Indeks S&P turun 0,65 persen sedangkan indeks Dow Jones Industrial Average juga turu 0,77 persen. Indeks Nasdaq Composite terkoreksi lebih dalam sebesar 1,27 persen.

Kinerja emiten seperti McDonald's Corp, 3M Co, dan Harley Davidson Inc yang di bawah perkiraan mendorong aksi jual pada saham-saham tersebut. 

Saham Pfizer Inc naik setelah produsen obat itu meningkatkan perkiraan pendapatan dan memulai tahap selanjutnya dalam percobaan vaksin virus corona. Saham Eastman Kodak Co juga melonjak seiring kabar pinjaman dari pemerintah AS.

Lebih lanjut, Starbucks Corp melaporkan penjualan yang sebanding plus melampaui estimasi para analis. Hal serupa juga terjadi pada Amgen Inc. Adapun Ebay Inc menaikkan proyeksi laba untuk tahun ini walaupun prediksi tersebut mengecewakan pelaku pasar. 

Beberapa perusahaan kelas kakap bakal melaporkan hasil kinerja keuangan pada pekan ini. Investor tengah mencari petunjuk apakah gelombang kedua penyebaran virus bakal menggagalkan harapan pembukaan kembali perekonomian di beberapa negara.

"Kita sudah melihat beberapa perusahaan mendapat manfaat dari lockdown dan banyak perusahaan di sisi lain benar-benar terimbas lockdown," ujar Kepala Investasi Charles Schwab Investment Management Bill McMahon seperti dilansir dari Bloomberg, Rabu (29/7/2020).

Untuk diketahui, pandemi terus mengamuk di beberapa negara bagian AS, Eropa, dan negara-negara berkembang termasuk India dan Brazil. Pemerintah harus menggandakan stimulus senilai US$11 triliun dolar dan dukungan bank sentral yang belum pernah terjai sebelumnya sejak krisis dimulai. 

The Federal Reserve akan mengumumkan keputusan suku bunga pada hari  ini. Pelaku pasar mengantisipasi kebijakan The Fed bakal dovish alias bunga acuan akan tetap rendah.

Kepala Strategi Investasi PNC Financial Service Group Amanda Agati mengatakan stimulus moneter maupun fiskal memberikan angin segar bagi pasar saham. Namun, dia mengingatkan, dalam kondisi seperti saat ini, terbilang sulit membuat progres. 

Berikut perkembangan indikator pasar

Saham

  • Indeks S&P 500 turun 0,6 persen
  • Indeks Stoxx Eropa naik 0,4 persen
  • MSCI Asia Pacific naik 0,4 persen

Mata Uang

  • Indeks Dolar AS Naik 0,1 persen
  • Euro turun 0,3 persen menjadi US$1,1716
  • Yen Jepang naik 0,3 persen menjadi 105,08 per dolar AS

Obligasi

  • Imbal hasil obligasi AS 10 tahun turun 4 basis poin menjadi 0,58 persen
  • Imbal hasil obligasi Jerman 10 tahun tidak berubah di posisi -1,09

Komoditas

  • Minyak mentah WTI turun 1,6 persen menjadi US$40,92 per barel
  • Emas menguat 0,9 persen menjadi US$1.959,71 per ounce.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa as Kebijakan The Fed covid-19

Sumber : Bloomberg

Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

BisnisRegional

To top