Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pemulihan Emiten Konstruksi Akan Lebih Lama, Ini Penyebabnya

Sejumlah faktor seperti penurunan anggaran belanja infrastruktur dan terhambatnya pembayaran menjadi penghambat pertumbuhan nilai kontrak baru.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 16 Juli 2020  |  20:26 WIB
Aktivitas proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) di salah satu tunnel atau terowongan di kawasan Tol Purbaleunyi KM 125, Cibeber, Cimahi Selatan, Jawa Barat, Kamis (2/4/2020). Bisnis - Rachman
Aktivitas proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) di salah satu tunnel atau terowongan di kawasan Tol Purbaleunyi KM 125, Cibeber, Cimahi Selatan, Jawa Barat, Kamis (2/4/2020). Bisnis - Rachman

Bisnis.com, JAKARTA – Korea Investment & Sekuritas Indonesia menurunkan proyeksi bisnis emiten di sektor konstruksi. Anjloknya nilai kontrak baru dan realokasi anggaran infrastruktur menjadi penyebab utama

Analis Korea Investment & Sekuritas Indonesia Mutiara Nita dalam risetnya menyebutkan, emiten di sektor konstruksi, utamanya BUMN karya diperkirakan akan kehilangan pertumbuhan nilai kontrak baru hingga 50 persen secara year-on-year. Hal tersebut disebabkan oleh penurunan anggaran belanja infrasruktur, pengerjaan proyek yang terhambat karena Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), dan pembayaran yang terhambat karena standar akuntansi baru PSAK 71.

“Penurunan ini akan berdampak pada kontraksi pendapatan usaha serta arus kas yang mandek dan akhirnya mempengaruhi neraca perusahaan hingga 2021 mendatang,” demikian kutipan laporan tersebut pada Kamis (16/7/2020).

Di sisi lain, pemerintah juga telah melakukan relokasi anggaran infrastruktur sebesar Rp58,4 triliun ke sektor kesehatan, pendidikan, dan pemerintah daerah. Untuk membantu perusahaan konstruksi, pemerintah juga akan membantu perusahaan dengan pembayaran melalui Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN) untuk setiap proyek yang rampung.

Meski kebijakan ini dinilai positif, Nita memperkirakan dampak kebijakan ini tidak akan besar pengaruhnya kepada kesehatan arus kas perusahaan. Hal ini membuat Nita menurunkan proyeksi saham-saham di sektor ini menjadi underweight.

Adapun saat ini, sektor konstruksi diperdagangkan pada level 8 kali dari price to earning ratio untuk tahun 2021, atau kembali ke level terendah di tahun 2010-2011. Selain itu, tingkat return on equity 4 BUMN konstruksi Indonesia juga dibawah 10 persen dengan adanya potensi penundaan pengerjaan proyek-proyek.

“Hal ini akan membuat pemulihan di bidang konstruksi akan memakan waktu yang lebih lama dari perkiraan awal,” katanya.

Sementara itu, Nita lebih merekomendasikan saham-saham operator jalan tol, PT Jasa Marga (Persero) Tbk ketimbang perusahaan konstruksi lainnya. Menurutnya, pendapatan usaha emiten berkode saham JSMR tersebut terbilang stabil dan mulai menunjukkan tren pemulihan.

Pada Juni 2020, penerimaan JSMR dari jalan tol utama terkontraksi 28 persen, atau lebih baik dibandingkan dengan pendapatan pada April dan Mei 2020 yang anjlok 50 persen. Selain itu, lonjakan pendapatan juga diprediksi akan terjadi dari ruas jalan tol Jakarta – Cikampek.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

emiten konstruksi
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top