Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Manuver Saham Bank Jago dan Kisah Bank BTPN Jilid Kedua

Harga saham PT Bank Jago Tbk. (d/h PT Bank Artos Indonesia Tbk) melonjak lebih dari 10 kali lipat dalam setahun terakhir seiring kehadiran investor baru. Saham berkode ARTO diburu karena pemegang saham anyar bisa mengulang kesuksesan menyulap PT Bank BTPN Tbk. menjadi salah satu bank paling moncer dalam satu dekade terakhir.
Rivki Maulana
Rivki Maulana - Bisnis.com 09 Juli 2020  |  08:11 WIB
Halaman muka website resmi PT Bank Jago Tbk.
Halaman muka website resmi PT Bank Jago Tbk.

Bisnis.com, JAKARTA  - Sejak Agustus 2019, saham Bank Jago, dahulu bernama Bank Artos sudah lima kali digembok sementara dari aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia. Saat suspensi dibuka, saat itu juga harga saham melejit. 

Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan, di akhir Desember 2019 harga sama berkode ARTO ditutup 3.100, naik 1.584,78 persen. Dalam periode berjalan 2020, harga saham Bank Jago membumbung 485 persen. Walhasil, kapitalisasi pasar bank tersebut melonjak menjadi Rp29 triliun.

Sejatinya, ARTO adalah bank gurem. Per Maret 2020, aset bank hanya Rp1,21 triliun dengan pendapatan bunga bersih Rp10 miliar. Bank Jago juga masih menderita kerugian 25,37 miliar dalam periode tiga bulan pertama 2020.

Saat IPO, Bank Artos yang berdiri di Bandung 1 Mei 1992 memiliki  1 kantor pusat, 1 kantor pusat operasional, 5 kantor cabang, dan 1 kantor kas di Bandung, Jakarta, serta Tangerang.

Sejak IPO,  harga saham Bank Artos melaju datar tanpa gejolak. Harga saham mulai beringsut di awal Agustus hingga bursa dibuat kaget saat terjadi lonjakan 25 persen dan ARTO ditutup di level 384.

Saat itu, manajemen Bank Artos melansir pengumuman rapat umum pemegang saham luar biasa yang akan digelar 30 September 2020. Rumor yang berkembang, bankir senior Jerry Ng dan Patrick S. Walujo bakal berkongsi untuk mengakuisisi saham Bank Artos. Rumor yang di kemudian hari bukan sekadar kabar burung.

Singkat cerita lewat akuisisi dan rights issue, Jerry Ng dan Patrick Walujo menggenggam 51 persen saham Bank Artos. Kepemilikan Jerry melalui Metamorfosis Ekosistem Indonesia (MEI) sedangkan Patrick Walujo  masuk dengan Wealth Track Technology Limited. Porsi saham masing-masing sebesar 37,65 persen dan 13,35 persen.

Dalam prospektus di Harian Bisnis Indonesia 22 Agustus 2019,  Jerry Ng dan Patrick Walujo berkomitmen mengembangkan Bank Artos sebagai bank yang melayani segmen menengah dan bawah dalam piramida pasar mass market. Bank juga akan menggunakan platform teknologi digital.

Pada April 2020, proses rights issue rampung dan Bank Artos mendapat dana segar Rp1,34 triliun dari aksi korporasi tersebut.

Arkian, berselang tiga bulan, manajemen Bank Artos mengumumkan perubahan nama dan perubahan alamat. Bank Artos bersalin rupa menjadi Bank Jago. Alamat kantor pusat semula di Bandung, kini hijrah ke Mega Kuningan, Jakarta.

Hari ini, Kamis (9/7/2020) untuk pertama kalinya manajemen akan memaparkan perkembangan terkini terkait kondisi bank dan rencana ke depan. Paparan publik tersebut merupakan permintaan BEI dan dirasa dibutuhkan untuk menjawab keingintahuan pemegang saham publik terkait rencana usaha Bank Jago.

Sejak kehadiran pemegang saham baru, kondisi bank tidak pernah sama lagi seperti sebelumnya. Kenaikan harga saham yang gila-gilaan mencerminkan ekspektasi yang tinggi terhadap figur pemegang saham baru.

Tidak berlebihan memang bila investor menaruh harapan besar. Duet Jerry Ng dan Patrick Walujo punya pengalaman lebih dari tujuh tahun membesarkan PT Bank BTPN Tbk. (d/h PT Tabungan Pensiunan Nasional Tbk).

Kisah Sukses BTPN

Pada 2008, Texas Pacific Group (TPG), melalui anak usahanya TPG Nusantara dan Northstar, mengakuisisi 71,61 persen saham BTPN senilai  Rp1,8 triliun. Setelah itu, Jerry Ng didapuk sebagai direktur utama di BTPN.

Pada 2008, aset BTPN hanya Rp13,69 triliun. Tujuh tahun kemudian, aset bank mencapai Rp81 triliun dengan ekuitas naik 739 persen menjadi Rp13,57 triliun. BTPN terus memupuk laba dengan tidak membagikan dividen hingga 2017.  Secara bertahap sejak 2013, TPG melepas sebagian saham ke investor baru, Sumitomo Mitsui Banking Corporation. Porsi saham TPG di BTPN tinggal 8,38 persen pada 2015.

Di awal tahun ini, Co-founder dan Managing Partner Northstar Patrick Walujo mengungkapkan keuntungan dari investasi di BTPN mencapai 13 kali lipat. Hal itu disampaikan di acara Indonesia Data and Economic (IDE) 2020 di Jakarta, Kamis (30/1/2020).

Sebagaimana diketahui, Bank BTPN kemudian merger dengan SMBC Indonesia pada Oktober 2018. Merger itu membuat Bank BTPN menggarap segmen yang beragam, mulai dari korporasi, pensiunan, syariah, hingga kalangan milenial lewat Jenius.

Di 2018 juga, Jerry Ng mengundurkan diri dari kursi Direktur Utama BTPN,  disusul beberapa direksi lainnya. Kini, Jerry menjadi Komisaris Utama Bank Jago. Sejumlah figur eks BTPN juga pindah gerbong.

Di laman resmi Bank Jago, tiga bankir eks BTPN merapat ke Bank Jago. Mereka adalah Kharim Siregar (Direktur Utama), Arief H. Tandjung (Wakil Direktur Utama), dan Peterjan Van Nieuwenhuizen (Direktur Digital Banking). Bekas Direktur Kepatuhan BTPN Anika Faisal juga bergabung sebagai komisaris.

Ekonomi Digital

Secara umum, Bank Jago diproyeksi menjadi bank dengan penggunaan teknologi digital yang kental. Dalam materi public expose yang dilansir perseroan, Bank Jago memiliki visi menjadi salah satu bank terkuat di Indonesia dan menyiapkan diri untuk perekonomian digital yang memenuhi kebutuhan nasabah menengah dan mass market

Lewat teknologi , Bank Jago menawarkan solusi keuangan mulai dari simpanan, pinjaman, asuransi, hingga kebutuhan dasar seperti transportasi, hiburan, makanan & minuman, serta e-commerce. Semua tertanam dalam sebuah ekosistem digital.

Peluang untuk menggarap pasar perbankan lewat teknologi digital memang terbuka lebar. Laporan McKinsey pada 2019 menunjukkan, Indonesia merupakan negara berkembang yang paling adaptif dalam perbankan digital. Penggunaan kanal digital dalam tiga tahun terakhir disebut tumbuh 2 kali lebih cepat dibandingkan dengan negara Asia lainnya. 

Di sisi lain, ekonomi digital di Indonesia terus berkembang. Google dan Tamasek pada tahun lalu merilis dalam laporan e-Conomy SEA 2019, ekonomi digital Indonesia diprediksi mencapai US$130 miliar pada 2025 dari posisi 2019 sebesar US$40 miliar. 

Pengalaman mumpuni di masa lalu ditambah dengan dukungan finansial yang kuat tentu menjadi modal penting bagi Bank Jago untuk terjun dalam ekonomi digital. Hal itu sepertinya  yang menjadi keyakinan para pemburu saham Bank Jago untuk mengambil risiko sekaligus mengamankan peluang cuan di masa mendatang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

btpn Bank Artos
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top