Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tiga Faktor Penekan Keuangan Perusahaan Properti, Apa Saja?

Emiten sektor properti harus pintar mengolah arus kas untuk menghindari tekanan terhadap kondisi keuangan.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 08 Juli 2020  |  18:57 WIB
Aktifitas pembangunan gedung apartemen di Jakarta, Sabtu (6/6/2020). Bisnis - Dedi Gunawan
Aktifitas pembangunan gedung apartemen di Jakarta, Sabtu (6/6/2020). Bisnis - Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – Suku bunga kredit yang masih dua digit membuat emiten sektor properti kesulitan membukukan pemasaran. Di sisi lain, ancaman restrukturisasi ikut membayangi.

Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatakan emiten sektor properti harus pintar mengolah arus kas. Pasalnya, sektor itu ditekan oleh tiga faktor yang berbeda.

Maximilianus mengatakan faktor pertama adalah standar akutansi PSAK 72. Hal ini membuat perseroan baru bisa mencatatkan penjualan setelah terima objek properti. Sebelum itu, artinya dana pemasaran masuk dalam liabilitas.

“Sebelum lunas tidak bisa dicatatkan. Mungkin dalam kondisi normal akan lebih transparan tapi dengan situasi sekarang akan lebih berat karena tidak bisa segera diakui,” katanya kepada Bisnis, Rabu (8/7/2020).

Maximilianus mengatakan faktor kedua adalah suku bunga kredit yang masih dua digit. Menurutnya sektor properti tengah menunggu stimulus sektor keuangan untuk mendorong daya jual. Namun bila suku bunga kredit masih tinggi, publik akan lebih memilih menahan daya beli.

Sementara itu pemerintah telah menurunkan suku bunga acuan menjadi 4,25 persen untuk mendorong daya beli masyarakat. Akan tetapi, menurut Maximilianus hal itu tidak akan efektif sebelum ada pengendalian virus.

Adapun Covid-19 menjadi faktor ketiga sulitnya penjualan. Menurutnya jumlah pasien yang terus bertambah membuat publik enggan menyerap produk properti. “Pengendalian virus penting supaya ketika kita menghabiskan uang merasa aman,” katanya.

Oleh sebab itu, Maximilianus menilai restrukturisasi tengah membayangi sektor properti bila perusahaan tidak memiliki arus kas yang kuat. Akan tetapi, tidak semua perusahaan dapat memperoleh dana segar saat ini.

“Emiten properti perlu menyiapkan mitigasi resiko, rencana bisnis ke depan dan juga keuangan yang sehat dari sisi aset dan liabilitas untuk menjadi acuan bagi para debitur,” katanya.

Sementara itu, Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan tahun ini adalah momentum yang berat bagi emiten properti. Pasalnya terjadi penurunan permintaan antara 40 persen sampai 50 persen.

“Penjualan memang masih ada tapi melambat dan cenderung menurun. Namun, saya rasa setelah stabil penjualan akan naik,” katanya.

Menurutnya emiten properti kesulitan melakukan pemasaran karena pihak perbankan tengah memperketat aliran kredit untuk menjaga likuiditas. Alhasil, hal ini akan mempengaruhi likuiditas emiten properti.

Hans mengatakan terdapat potensi pengembang besar dengan aliran kas yang kuat akan melakukan ekspansi. Perusahaan properti kecil, kata Hans, akan sulit melanjutkan proyek di tengah pandemic covid-19. Hal ini membuka peluang pengembang besar melakukan akuisisi.

“Saat ini kas adalah raja. Ketika kas sangat ketat untuk memenuhi kewajiban beberapa pilihan adalah restrukturisasi, refinancing atau menjual [aset],” katanya.

Selain itu, Hans menilai salah satu cara untuk meningkatkan pemasaran ialah menyediakan skema kredit secara langsung ke pengembang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

keuangan emiten properti
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top