Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

SUN Tenor Pendek Jadi Incaran

Total penawaran yang masuk dalam lelang SUN yang digelar hari ini mencapai Rp72,03 triliun.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 30 Juni 2020  |  19:04 WIB
Pialang memperhatikan Yield SUN Indonesia - Antara/Prasetyo Utomo
Pialang memperhatikan Yield SUN Indonesia - Antara/Prasetyo Utomo

Bisnis.com,JAKARTA — Kembali meningkatnya risiko akibat penyebaran pandemi Covid-19 membuat investor kembali memburu surat utang negara tenor pendek.

Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan melaporkan hasil lelang tujuh seri surat utang negara (SUN) terakhir semester I/2020. Hasilnya, total penawaran yang masuk senilai Rp72,03 triliun pada Selasa (30/6/2020).

Penawaran terbanyak masuk untuk seri FR0081 senilai Rp27,94 triliun. Seri itu akan jatuh tempo pada 15 Juni 2025 atau memiliki tenor 5 tahun.

Penawaran terbesar kedua masuk untuk seri FR0082 senilai Rp23,473 teriliun. Seri itu akan jatuh tempo 15 September 2030 dengan yield tertinggi yang masuk 7,50 persen.

Adapun, dari total penawaran yang masuk, total nominal yang dimenangkan oleh pemerintah senilai Rp20,50 triliun.

Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto mengatakan SUN Indonesia  dengan tenor 5 tahun kembali menjadi incaran karena ketidakpastian yang kembali meningkat. Para investor menurutnya masih mencermati kasus Covid-19 termasuk penambahan positif baru yang masih tinggi di Indonesia.

“Jadi SUN dengan tenor pendek dicari lagi selain memang tenor 5 tahun hingga 10 tahun cukup likuid di pasar sekunder,” jelasnya kepada Bisnis, Selasa (30/6/2020).

Kenaikan risiko juga tercermin dari kenaikan credit default swap (CDS) yang mengiringi pelemahan rupiah. Bloomberg mencatat premi CDS Indonesia bertenor 10 tahun naik 0,580 poin atau 0,27 persen ke level 211,990 pada Selasa (30/6/2020). 

Kendati demikian, Ramdhan menilai likuiditas untuk SUN Indonesia masih cukup baik. Hal itu tercermin dari transaksi harian di pasar sekunder serta permintaan yang masuk dalam lelang reguler.

Dia juga menggarisbawahi peran Bank Indonesia (BI) dan perbankan yang masuk ke pasar primer. Dua institusi itu menjadi pendorong permintaan dalam lelang.

“Penawaran masuk dalam lelang masih tinggi karen BI dan bank masuk. Sementara itu, asing masih di bawah 20 persen,” paparnya.

Secara terpisah, Associate Direktur of Research and Investment Pilarmas Sekuritas Maximilianus Nico Demus telah memprediksi penawaran yang masuk dalam lelang terakhir semester I/2020 berkisar Rp50 triliun hingga Rp75 triliun. Apabila lebih, hal itu menunjukkan bahwa keyakinan terhadap perekonomian masih tinggi dan hanya menunggu momentum untuk masuk.

“Daya serap pemerintah tinggi atau tidak melalui lelang tersebut akan memberikan pengaruh terhadap pergerakan rupiah,” ujarnya melalui riset harian, Selasa (30/6/2020).

Nico mengatakan meningkatnya ketidakpastian akan membuat pasar obligasi menjadi semakin rentan untuk berfluktuasi. Amerika Serikat dan China yang kembali bersitegang membuat investor asing masih cenderung mengamati untuk mulai masuk ke dalam pasar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

surat utang negara
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top