Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Biaya Pencatatan Saham Dipangkas, Aksi IPO Bakal Ramai?

Direktur Penilai Perusahaan Bursa Efek Indonesia I Gede Nyoman Yetna mengatakan sejauh ini minat perusahaan untuk initial public offering (IPO) masih tinggi.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 24 Juni 2020  |  19:14 WIB
Pengunjung melintas di depan papan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (24/6/2020). Bisnis - Abdurachman
Pengunjung melintas di depan papan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (24/6/2020). Bisnis - Abdurachman

Bisnis.com, JAKARTA – Pemotongan biaya pencatatan saham sebesar 50 persen dinilai bakal mendorong maraknya pencatatan saham baru oleh perusahaan sebagai alternatif pendanaan.

Direktur Sinarmas Sekuritas, Kerry Rusli mengatakan langkah Bursa Efek Indonesia memotong 50 persen biaya pencatatan awal saham (ILF) bakal membuat pasar bergairah. Pasalnya biaya yang dikeluarkan menjadi berkurang.

“Seharusnya bisa meramaikan pencatatan efek,” katanya kepada Bisnis pada Rabu (24/6/2020).

Sementara itu, Vice President Investment Banking Shinhan Sekuritas Indonesia Bayu Eko Swastono mengatakan pengurangan biaya pencatatan belum tentu akan menambah jumlah pipeline IPO. Menurutnya ada beberapa pertimbangan yang perlu dilakukan sebelum melaju sebagai perusahaan tercatat.

“Biaya listing bukan biaya terbesar dalam proses tersebut,” imbuhnya.

Sebelumnya, Direktur Penilai Perusahaan Bursa Efek Indonesia I Gede Nyoman Yetna mengatakan sejauh ini minat perusahaan untuk initial public offering (IPO) masih tinggi.

Hal itu tercermin dari jumlah perusahaan yang terdapat di daftar rencana IPO saham dan penerbitan obligasi atau sukuk. Menurutnya sampai dengan 22 Juni 2020, terdapat 21 perusahaan yang berencana akan melakukan pencatatan saham di BEI.

"Saat ini juga terdapat 25 issuer yang akan menerbitkan 30 emisi obligasi atau sukuk yang berada dalam pipeline di BEI," katanyanya.

Nyoman mengatakan terdapat 8 perusahaan berasal dari sektor perdagangan, jasa dan investasi. Lalu 5 perusahaan dari sektor properti, real estate dan konstruksi. Sisanya 8 perusahaan berasal dari perusahaan yang bergerak pada sektor agrikultur, industri dasardan kimia, keuangan, serta konsumer.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa efek indonesia ipo Aksi Korporasi
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top