Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Gagal Bayar di Pasar Obligasi Offshore China Capai US$4 Miliar

Kegagalan pembayaran tersebut membuat jumlah obligasi default di offshore China menjadi US$4 miliar tahun ini, naik 150 persen dari tahun sebelumnya.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 22 Juni 2020  |  16:40 WIB
Seorang pejalan kaki berjalan melewati papan ticker elektronik yang menampilkan angka harga saham di luar kompleks Exchange Square di Hong Kong. - Justin Chin / Bloomberg
Seorang pejalan kaki berjalan melewati papan ticker elektronik yang menampilkan angka harga saham di luar kompleks Exchange Square di Hong Kong. - Justin Chin / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Kerugian di pasar obligasi berdenominasi dolar AS di China semakin memburuk tengah kejatuhan ekonomi akibat virus Corona.

Hilong Holding Ltd., sebuah perusahaan peralatan dan layanan minyak, menjadi perusahaan terbaru yang mengalami gagal bayar (default) pada hari Senin dengan total obligasi senilai US$165 juta.

Perusahaan telah berusaha untuk menawarkan obligasi baru untuk ditukar dengan utang jatuh tempo, namun gagal mendapat cukup dukungan investor. Kegagalan pembayaran tersebut membuat jumlah obligasi default di offshore China menjadi US$4 miliar tahun ini, naik 150 persen dari tahun sebelumnya, menurut data Bloomberg.

Di sisi lain, tingkat default dipasar obligasi dalam negeri mulai melambat tahun ini karena pemerintah berusaha untuk menghindari perlambatan ekonomi yang lebih buruk.

Kepala analis kredit di Australia & New Zealand Banking Group Ltd Owen Gallimore mengatakan hingga saat ini, tercatat ada 11 obligasi China yang mengalami gagal bayar, meningkat dari 9 obligasi tahun lalu.

Gagal bayar dialami di berbagai sektor, khususnya oleh perusahaan swasta," ungkapnya, seperti dikutip Bloomberg.

Hilong menyatakan para investor yang mewakili sekitar 63,45 persen dari jumlah pokok obligasi yang jatuh tempo pada Senin menerima tawaran pertukaran, menurut dokumen pengajuan di Hong Kong Stock Exchange. Namun jumlah tersebut kurang syarat minimum sebesar 80 persen.

Hilong bergabung dengan daftar perusahaan lain di industri minyak di Asia dan default terbaru ini menandai percepatan kegagalan pembayaran di pasar obligasi luar negeri China karena perlambatan ekonomi yang disebabkan oleh pandemi.

Perusahaan yang berbasis di Shanghai ini mempertimbangkan dampak wanprestasi terhadap hutang lainnya dan telah memperpanjang batas waktu penawaran pertukaran untuk keempat kalinya hingga 29 Juni.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi china

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top