Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Mampukah Harga Logam Industri Rebound ke Level Sebelum Pandemi?

Mengutip Bloomberg pada Rabu (17/6/2020) pukul 15.43 WIB, seluruh harga komoditas logam industri berada di zona hijau.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 17 Juni 2020  |  16:53 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Angin segar dari Negeri Paman Sam berupa proposal infrastruktur senilai US$1 triliun dipercaya dapat mengantarkan harga-harga logam industri ke level sebelum pandemi Covid-19 menyerang.

Mengutip Bloomberg pada Rabu (17/6/2020) pukul 15.43 WIB, seluruh harga komoditas logam industri berada di zona hijau.

Harga tembaga kontrak tiga bulanan di London Merchantile Exchange (LME) menguat 0,37% ke level US$5.728 per metrik ton dibandingkan perdagangan hari sebelumnya.

Sejak awal tahun, harga tembaga masih tergerus 7,22% dan sempat menyentuh kevel terendah senilai US$4.630 per metrik ton pada 24 Maret 2020.

Selanjutnya, harga aluminium kontrak tiga bulanan di LME menguat 1,30% menjadi US$1.597 per metrik ton dari hari sebelumnya. Harga aluminium mulai membaik setelah menyentuh level terendah sebesar US$1.462 per metrik ton pada Mei.

Harga timah kontrak tiga bulanan di LME juga ikut menguat 0,45% ke level US$16.920 per metrik ton dan harga seng terapresiasi 0,66% ke level US$1.995 per metrik ton.

Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim menjelaskan hampir semua harga logam industri menguat setelah Pemerintah AS berencana mengeluarkan US$1 triliun untuk proyek infrastruktur untuk menggairahkan perekonomian.

“Ini baru rencana, tapi sudah cukup bagus [menjadi sentimen] terhadap pasar. Selama ini, pasar [komoditas] itu selalu dihubung-hubungkan dengan pandemi Coviid-19 yang relatif lebih negatif,” kata Ibrahim, Rabu (17/6/2020).

Ibrahim menjelaskan bahwa Kongres AS berkemungkinan besar akan meloloskan proposal infrastruktur tersebut. Adapun, proyek infrastruktur telah menjadi bahan kampanye andalan Donald Trump untuk mencalonkan diri sebagai presiden pada 2016.

Kala itu, Trump berjanji akan membangun infrastruktur yang dapat menghubungkan seluruh negara bagian di AS dan membangun tembok perbatasan dengan negara lain.

Rencana tersebut tampaknya tidak berjalan lancar karena pecah perang dagang antara AS dan China. Dengan demikian, menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2020, Trump kembali melirik sektor infrastruktur untuk menarik pemberi suara (voters)agar dirinya terpilih lagi memimpin selama empat tahun ke depan.

“Program dari Pemerintah Trump ini, melakukan pembangunan infrastruktur, sebenarnya sudah sejak awal Trump menjadi presiden. Sekarang tampaknya menjadi waktu yang tepat bagi Pemerintah Trump untuk kembali menyiapkan dana US$1 triliun untuk infrastruktur di luar US$5 triliun untuk stimulus Covid-19,” jelas Ibrahim.

Di sisi lain, lanjut Ibrahim, penguatan harga komoditas logam industri juga akan terdorong oleh pemulihan ekonomi di sejumlah negara yang telah melonggarkan aturan lockdown seperti China.

Kendati Produk Domestik  Bruto (PDB) China terkontraksi 6,8% pada kuartal I/2020, diharapkan pemulihan ekonomi di sana akan lebih cepat pada paruh kedua tahuni ni.

“Ini yang meningkatkan optimisme pasar bahwa pandemi ini akan berlalu dan perekonomian kembali bergeliat. Kalau AS siapkan US$1 triliun pun tetapi pandemi masih bercokol, ya tetap sulit,” imbuh Ibrahim.

Adapun, Ibrahim menunjukkan pandemi Covid-19 masih menjadi ancaman terbesar pemulihan harga logam industri tahun ini. Namun demikian, pergerakan harga logam industri khususnya timah dan seng akan lebih berfluktuasi ketimbang harga tembaga dan aluminium.

Dirinya memperkirakan tahun ini harga tembaga masih bisa menguat ke atas US$6.300 per metrik ton, harga aluminium sekitar US$1.600 per metrik ton, seng menuju US$2.100 per metrik ton, dan harga timah setinggi-tingginya mencapai US$17.300 per metrik ton.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

infrastruktur komoditas logam Donald Trump
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top