Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tembus Level US$17.000, Harga Timah Berada di Jalur Bullish

Lonjakan harga timah terjadi sejak awal bulan ini. Kenaikan harga sudah hampir menutup seluruh kerugian harga timah tahun ini di tengah kekhawatiran tentang pasokan.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 15 Juni 2020  |  19:35 WIB
Pekerja menghitung timah batangan di salah satu pabrik di Kepulauan Bangka Belitung. Bisnis - Endang Muchtar
Pekerja menghitung timah batangan di salah satu pabrik di Kepulauan Bangka Belitung. Bisnis - Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA - Harga timah embali diperdagangkan di level US$17.000 per ton dan berada di jalur bullish seiring optimisme pemulihan permintaan. 

Berdasarkan data Bloomberg, timah menjadi logam dengan pemulihan harga tercepat dibandingkan dengan komoditas logam lainnya. Padahal, tahun lalu kinerja timah tercatat paling jeblok.

Lonjakan harga timah terjadi sejak awal bulan ini. Kenaikan harga sudah hampir menutup seluruh kerugian harga timah tahun ini di tengah kekhawatiran tentang pasokan.

Sepanjang tahun berjalan 2020, harga timah terkoreksi 0,32 persen dan parkir di level US$17.120 per ton. Kinerja itupun memimpin kinerja logam dasar lainnya yang masih terkoreksi di atas 5 persen secara year to date.

Timah telah berhasil membalikkan keadaan dari anjlok ke level US$13.250, level terendah sejak 2016. Namun, pada perdagangan pekan lalu timah kembali menutup perdagangan di level US$17.000 per ton untuk pertama kalinya sejak Maret 2020.

Adapun kinerja logam dasar lainnya sepanjang tahun berjalan adalah harga tembaga melemah 6,31 persen, timbal turun 8,8 persen, nikel terkoreksi 9,7 persen, aluminium turun 12,43 persen, dan seng melemah 12,98 persen.

Analis Capital Futures Wahyu Laksono menilai rebound harga timah cukup wajar karena harga telah menyentuh area terendahnya. Dia menjelaskan bahwa rebound harga komoditas bisa terjadi tanpa alasan apapun, karena sejatinya komoditas itu masih diperlukan sehingga masih memiliki nilai dan harga.

Namun, saat ini optimisme pelonggaran lockdown dan dibukanya kembali ekonomi beberapa negara menjadi penggerak utama harga komoditas sehingga berhasil rebound termasuk timah.

Apalagi, pasar timah tampaknya menunjukkan stabilitas pasokan-permintaan yang masih terkendali, terutama sumber pasokan yang lebih baik dari Indonesia. Hal itu pun menjadi bantalan tambahan timah untuk terus melanjutkan penguatannya dan bertahan di zona hijau di antara logam dasar lainnya.

Persediaan timah di gudang yang dilacak oleh bursa LME menunjukan penurunan hingga ke level terendahnya. Seperti yang diketahui, pandemi Covid-19 telah menghambat kegiatan penambangan sehingga memperketat pasokan global yang juga akan menopang harga ke depan..

“Timah juga telah didukung oleh gangguan pasokan meskipun kondisi permintaan lebih lemah,” ujar Wahyu kepada Bisnis, Senin (15/6/2020).

Sementara itu, untuk jangka panjang prospek timah juga masih akan didukung oleh perkembangan teknologi yang akan meningkatkan penjualan semikonduktor, salah satu sektor permintaan timah terbesar.

Menurut Wahyu, harga timah masih akan terjebak dalam kisaran yang lebih luas di antara US$13.000 per ton hingga US$21.000 per ton. Ancaman krisis sebagai dampak dari pandemi Covid-19 belum menekan harga timah anjlok melampaui kisaran konsolidasi jangka panjangnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

timah
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top