Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Emas Melemah, Jual atau Jangan? Ini Saran Analis

Pada akhir April lalu, harga emas sempat menyentuh level tertingginya US$1.765 per troy ounce. Namun, logam mulia itu justru mengalami tren penurunan setelahnya.
Emas lantakan./ Stefan Wermuth - Bloomberg
Emas lantakan./ Stefan Wermuth - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Harga emas kerap menunjukkan tren penurunan setelah menjajal level di bawah US$1.700 per troy ounce.

Berdasarkan data Bloomberg pada perdagangan Selasa (9/6/2020) pukul 13.20, harga emas di bursa Comex turun 0,16 persen ke level US$1.702 per troy ounce. Begitu juga dengan harga emas spot yang terkoreksi 0,05 persen US$1.697 per troy oun.

Pada akhir April lalu, harga emas sempat menyentuh level tertingginya US$1.765 per troy ounce. Namun, logam mulia itu justru mengalami tren penurunan setelahnya. Sekalipun kerusuhan di Amerika Serikat sudah pecah, harga emas tidak kunjung terangkat.

Direktur TRX Garuda Berjangka Ibrahim Suabi mengatakan logam mulia itu memang sedang menunjukkan tren penurunan. Menurutnya emas akan terus melemah sampai ke level US$1.660 per troy ounce.

“Untuk saat ini masih ada koreksi, karena kemungkinan akan menuju US$1.650 per troy ounce setelah itu baru akan rebound,” katanya.

Meskipun demikian, Ibrahim menyarankan investor ritel untuk tidak menjual emasnya meskipun kerap melemah.

Untuk saat ini, Ibrahim menyarankan untuk wait and see terlebih dahulu sebelum tergesa menjual aset aman. Banyak investor banyak yang beralih ke aset beresiko karena ekonomi kembali pulih pasca pembatasan.

Namun, Ibrahim menilai masih terdapat potensi kenaikan harga emas bila ketegangan Amerika Serikat dan China kembali memanas pasca demonstrasi black live matters. Selain itu, Korea Utara dan Korea Selatan juga sedang membara hingga potensi pemutusan hubungan politik.

“Investor ritel jangan terburu-buru menjual karena emas akan tetap menjadi primadona bila kondisi geopolitik memanas,” katanya.

Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan ini waktu yang tepat untuk menambah kepemilikan di tengah tren penurunan. Menurutnya, terdapat peluang rebound karena resiko pandemi covid-19 masih menghantui.

“Wabah pandemi masih ada, data-data ekonomi masih memburuk, ada potensi perang dagang lanjutan antara AS dan China, dan risiko lainnya yang bisa mendorong pasar kembali masuk ke aset safe haven,” katanya.

Oleh sebab itu tekanan untuk harga emas saat ini terjadi karena respon positif pasar terhadap pembukaan kembali ekonomi. Hal itu membuat pelaku pasar kembali masuk ke aset berisiko untuk mengambil peluang profit.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Pandu Gumilar
Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper