Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Manuver Balasan China Bikin Wall Street Tergelincir

Ketagangan hubungan AS-China berlanjut setelah China menyetop impor produk pertanian AS yang mana tindakan ini berpotensi menggagalkan kesepakatan dagang tahap pertama. Kerusuhan sipil di AS juga menjadi pemberat pergerakan indeks saham.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 01 Juni 2020  |  21:32 WIB
Tanda Wall Street tampak di depan Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS. - Michael Nagle / Bloomberg
Tanda Wall Street tampak di depan Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS. - Michael Nagle / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Laju saham di Bursa Amerika Serikat tergelincir seiring ketegangan AS dan China yang terus berlanjut. Hasil uji vaksin Covid-19 dan kerusuhan sipil juga mempengaruhi pergerakan di pasar saham.

Dilansir dari Bloomberg, indeks S&P 500 bergerak lebih rendah setelah Pemerintah China memerintahkan perusahaan pertanian untuk menghentikan impor produk pertanian AS, termasuk kedelai. Hal ini mengancam kesepakatan dagang fase pertama yang diteken Januari 2020 lalu.

Di sisi lain, saham-saham produsen obat-obatan yang tertekan menjadi salah satu penyebab utama bursa saham AS masuk zona merah. Saham Gilead Sciences Inc. menjadi salah satu yang turun paling dalam, setelah uji coba obat remdesivir tidak banyak memberikan dampak positif terhadap pasien.

Hal ini membuat instrumen investasi lain mengalami penguatan. Logam mulia dan bursa saham di emerging market terpantau menguat bersamaan dengan tren yang terjadi di Eropa dan Asia.

Pelaku pasar telah mencermati situasi di AS yang dilanda gelombang protes yang sebagian berakhir dengan kerusuhan. Adapun indeks saham memang masih di dekat posisi tertinggi dalam tiga bulan terakhir karena optimisme pelaku pasar terhadap rencana pembukaan kembali perekonomian masih mengemuka. 

"Kami tidak mencoba untuk menjadi 'downers' di pasar, tetapi risiko maupun keuntungan di pasar saham tidak menarik bagi kami dalam waktu dekat," tulis Tom Essaye,  pedagang Merrill Lynch yang mendirikan buletin The Sevens Report.

Dalam catatan kepada kliennya, Tom melanjutkan, "Pasar [saham], walaupun tidak dihargai dengan sempurna, tidak dihargai untuk kejutan negatif, dan pengalaman dua dekade kami dalam bisnis ini memberitahu kita bahwa, dengan banyak hal yang tidak diketahui, itu cukup agresif."

Pada perkembangan lain, China Caixin purchasing manager index untuk sektor manufaktur naik di atas 50 pada Mei 2020. Hal ini mengindikasikan sektor manufaktur di China kembali menggeliat. 

Berikut sejumlah catatan penting yang mewarnai pasar keuangan dunia :

  • European Central Bank diperkirakan akan menambah program penyelamatan ekonomi senilai 500 miliar euro.
  • Laporan pasar tenaga kerja AS pada hari Jumat (5/6/2020) diperkirakan menunjukkan angka pengangguran melonjak menjadi 19,6 persen, tertinggi sejak 1930-an.

Saham

  • Indeks S&P 500 turun 0,1 persen
  • Indeks Stoxx Eropa nai 0,8 persen
  • Indeks Hang Seng Hong Kong naik 3,4 persen
  • MSCI Asia Pacific Index naik 1,6 persen

Mata Uang

  • Indeks Spot Dollar Bloomberg turun 0,3 persen
  • Euro terhadap dolar AS naik 0,1 persen menjadi US$1,1115
  • Yen terhadap dolar AS naik 0,1 persen menjadi 107,73 per dolar AS

Obligasi

  • Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun naik 2 basis poin menjadi 0,68 persen
  • Imbal hasil obligasi Jerman naik 15 basis poin menjadi -0,41 persen
  • Imbal hasil obligasi Inggris 10 tahun naik empat basis poin menjadi 0,22 persen

Komoditas

  • Minyak mentah WTI turun 2,5 persen menjadi US$24,59 per barel
  • Emas menguat 0,3 persen menjadi US$1/734,97 per troy ounce.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china bursa as George Floyd

Sumber : Bloomberg

Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top