Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Investor Tinggalkan Saham Teknologi, Wall Street Variatif di Awal Perdagangan

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,92 persen atau 229,95 poin ke level 25.225,06 pada pukul 09.08 waktu New York.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 27 Mei 2020  |  21:31 WIB
Tanda Wall Street tampak di depan Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS. -  Michael Nagle / Bloomberg
Tanda Wall Street tampak di depan Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS. - Michael Nagle / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat bergerak variatif pada awal perdagangan hari ini, Rabu (27/5/2020), dengan investor menghindar dari saham teknologi tinggi demi saham yang paling terpukul oleh virus.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,92 persen atau 229,95 poin ke level 25.225,06 pada pukul 09.08 waktu New York.

Sementara itu, indeks S&P 500 menguat 0,38 persen atau 11,39 poin ke level 3.003,16. Di sisi lain, indeks Nasdaq Composite melemah 0,76 persen atau 70,53 poin ke level 9.269,69.

Untuk hari kedua, saham yang paling tertekan oleh efek penutupan ekonomi, dari Carnival Corp hingga United Airlines, melonjak karena investor mengantisipasi kenaikan tajam dalam pengeluaran untuk barang dan jasa yang tidak penting.

Di sisi lain, indeks Nasdaq yang padat saham teknologi melemah karena investor melepas kepemilikan saham. Meningkatnya ketegangna antara AS dan China juga membebani produsen chip.

"Pandangan terhadap dunia saat ini tampaknya terlihat optimis," kata Sameer Samana, analis pasar global senior di Wells Fargo Investment Institute, seperti dikutip Bloomberg.

“Kabar baik dipandang sebagai hal yang konstruktif dan berita buruk dipandang sebagai sementara dan tidak signifikan, atau sesuatu yang dapat dengan mudah diselesaikan dengan langkah-langkah likuiditas dan fiskal yang lebih besar,” lanjutnya.

Investor memandang dengan tenang terhadap friksi baru AS-China, termasuk kemungkinan sanksi atas tindakan keras Beijing di Hong Kong, di saat mereka mereka mendorong saham global ke level tertinggi sejak awal Maret dengan harapan bahwa ekonomi mulai pulih.

“Reli pasar saham baru-baru ini adalah indikasi bahwa investor semakin optimis terhadap tentang pembukaan kembali prekonomian dan pengembangan pengobatan Covid-19," ujar Katerina Simonetti, manajer portofolio senior di UBS Private Wealth.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa as
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top