Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Berkah Ramadan Penghuni Indeks IDX30

Sejumlah saham anggota Indeks IDX30 mencetak kenaikan lebih dari 10 persen sejak awal Ramadan, ditopang sektor konsumsi yang masih berdenyut.
Pekerja mengambil gambar pergerakan Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) dengan ponselnya di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (11/5/2020). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pergerakan IHSG pada Senin (11/5/2020) berakhir di level 4.639,1 dengan penguatan sekitar 0,91 persen atau 41,67 poin dari level penutupan perdagangan sebelumnya. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Pekerja mengambil gambar pergerakan Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) dengan ponselnya di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (11/5/2020). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pergerakan IHSG pada Senin (11/5/2020) berakhir di level 4.639,1 dengan penguatan sekitar 0,91 persen atau 41,67 poin dari level penutupan perdagangan sebelumnya. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Bisnis.com,JAKARTA— Lebaran sebentara lagi, kabar baik menghampiri pada investor pemegang saham Indeks IDX30. Sejumlah emiten konstituen indeks tersebut mampu memberikan imbal positif hingga dua digit sepanjang periode Ramadan 2020 walaupun perekonomian dibayangi pandemi Covid-19.

Indeks IDX30 mengukur kinerja harga 30 emiten yang memiliki likuiditas tinggi, kapitalisasi pasar besar, serta didukung fundamental perusahaan yang baik. 

Berdasarkan data Bloomberg, sejumlah emiten mampu mengukir kinerja saham cemerlang dalam rentang 24 April 2020—19 Mei 2020. Periode itu bersamaan dengan bulan suci Ramadan.

Emiten produsen nikel, PT Vale Indonesia Tbk. (INCO), memimpin dengan penguatan 23,43 persen ke level Rp2.950. Perseroan semen milik negara, PT Semen Indonesi (Persero) Tbk. (SMGR) menempel di urutan kedua dengan menguat 23,19 persen ke level Rp8.500.

Sayangnya, laju indeks IDX30 harus tertekan konstituen dengan bobot besar yang mengalami koreksi cukup dalam sepanjang Ramadan 2020. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) menjadi penekan utama dengan koreksi 15,36 persen ke level Rp2.370.

Indeks IDX30 terkoreksi 8,07 poin atau 2,15 persen ke level 367,33 sepanjang periode berjalan Ramadan 2020. Koreksi itu lebih dalam dari indeks harga saham gabungan (IHSG) yang turun 0,98 persen menuju 4.548,66 pada 24 April 2020 hingga 19 Mei 2020.

Senior Vice President Research PT Kanaka Hita Solvera Janson Nasrial menjelaskan bahwa mayoritas penghuni IDX30 yang mencetak kenaikan 10 persen selama Ramadan berasal dari sektor konsumer, rokok, farmasi, perunggasan, konsumer, dan semen. Pihaknya menilai sektor terkait konsumen selalu bergerak positf secara historis pada periode Ramadan.

“Disamping sektor tersebut juga sektor defensif yang akan dipilih oleh fund manager selama pembatasan sosial berskala besar [PSBB] dan social distancing berlangsung,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (19/5/2020).

Kendati demikian, Janson menyebut bahwa price earning ratio (PER) sektor konsumer, perunggasan, dan semen sudah mahal. Sebagai gambaran, PER PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) sempat turun ke 7 kali sekarang telah kembali ke level 11 kali atau sama sebelum adanya penyebaran Covid-19.

Padahal, lanjut dia, PSBB dan social distancing akan berampak buruk terhadap emiten di kuartal II/2020. Dengan demikian, sektor-sektor itu diprediksi akan rentan koreksi ketika IHSG tembus support 4.440.

“Menjelang akhir Mei 2020, IHSG rentan koreksi cukup dalam namun penurunan tersebut sepertinya akan diimbangi oleh sektor perbankan akibat value rotation dari sektor konsumer, perunggasan, dan farmasi yang sudah kemahalan ke sektor perbankan yang sebulan menjadi bulan-bulana aksi heavy selling,” paparnya.

Sementara itu, Vice President Research Artha Sekuritas Frederik Rasali menilai kenaikan yang terjadi untuk emiten top leaders IDX30 hanya bersifat sementara. Menurutnya, peningkatan yang terjadi karena rebound dari penurunan awal Maret 2020 atau saat awal kasus Covid-19 mulai memanas.

“Melihat kuartal II/2020, secara fundamental masih tertekan sehingga kemungkinan harga saham juga masih tertekan untuk emiten-emiten tersebut,” paparnya.

Kendati demikian, Frederik masih merekomendasikan saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM). Pasalnya, emiten telekomunikasi pelat merah itu justru terdorong kinerjanya karena PBSS dan penerapan work from home.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Rivki Maulana
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper