Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ikuti Bursa Eropa, Wall Street Melemah di Awal Perdagangan

Bursa saham Amerika Serikat mengikuti pelemahan bursa Eropa pada awal perdagangan Selasa (19/5/2020) karena investor menimbang serangkaian laporan kinerja emiten terbaru di tengah meredupnya momentum terhadap aset berisiko.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 19 Mei 2020  |  21:45 WIB
Tanda Wall Street tampak di depan Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS. - Michael Nagle / Bloomberg
Tanda Wall Street tampak di depan Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS. - Michael Nagle / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat mengikuti pelemahan bursa Eropa pada awal perdagangan Selasa (19/5/2020) karena investor menimbang serangkaian laporan kinerja emiten terbaru di tengah meredupnya momentum terhadap aset berisiko.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Dow Jones Industrial Average melemah tipis 0,1 persen atau 3,65 poin ke level 24.593,72 pada pukul 09.14 waktu New York.

Sementara itu, indeks S&P 500 melemah0,18 persen atau 5,45 poin ke level 2.948,46, sedangkan indeks Nasdaq Compositemenguat 0,67 persen atau 62,26 poin ke level 9.279,08.

Indeks S&P 500 dibuka di zona merah setelah kenaikan satu hari terbesar dalam hampir enam pekan pada perdagangan Senin (18/5). Walmart Inc. melaporkan kinerja yang melampaui ekspektasi, sedangkan kinerja Home Depot Inc. meleset dari perkiraan untuk pertama kalinya dalam enam tahun terakhir.

"Baru saja ada lonjakan kemarin, dan pergerakan di pasar saat ini sedikit mengejutkan saya," kata Jeff Mills, kepala investasi Bryn Mawr Trust Co, seperti dikutip Bloomberg.

Wall Street mengikuti laju indeks Stoxx Europe 600 yang melemah karena investor bereaksi minim terhadap rencana Eropa menggelontorkan dana pemulihan senilai US$546 miliar untuk wilayah tersebut dan kejutan kenaikan indeks kepercayaan investor Jerman.

Aset berisiko memulai minggu ini dengan penguatan besar setelah Moderna Inc memicu harapan pengembangan vaksin virus corona, tetapi investor berjuang untuk mempertahankan momentum karena mereka memantau meningkatnya jumlah negara yang melonggarkan pembatasan yang diberlakukan untuk memperlambat penyebaran pandemi.

Gubernur Federal Reserve Jerome Powell dijadwalkan berpidato mengenai tentang keadaan pemulihan pada Selasa. Sejumlah pihak berekspektasi dia akan mendesak dukungan fiskal lebih lanjut untuk mengatasi resesi.

"Belum pernah ada rebound harga saham jangka pendek bahkan ketika pasar menetapkan posisi terendah baru," ungkap Ashwin Alankar, kepala alokasi aset global di Janus Henderson, seperti dikutip Bloomberg.

“Metrik berwawasan ke depan seperti revisi pendapatan, di sisi lain, terlihat lebih behati-hati baik untuk ekonomi dan harga saham," lanjutnya.

Sementara itu, AS menunjukkan tanda lebih lanjut terhadap pengetatan pengawasan aliran modal ke China, dengan Nasdaq berencana mengungkap aturan baru untuk penawaran umum perdana termasuk standar akuntansi yang lebih ketat yang akan membuat lebih sulit bagi perusahaan China untuk go public di bursa AS.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa as covid-19
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top