Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kinerja 2019 : Pendapatan Matahari Putra Prima (MPPA) Turun 19 Persen

Penjualan Matahari Putra Prima didominasi penjualan di segmen eceran dengan proporsi sebesar 96,67 persen.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 12 Mei 2020  |  13:04 WIB
Gerai Hypermart Mall Bali Galeria, Kuta, buka lagi setelah direnovasi 2,5 bulan. - Bisnis/Feri Kristianto
Gerai Hypermart Mall Bali Galeria, Kuta, buka lagi setelah direnovasi 2,5 bulan. - Bisnis/Feri Kristianto

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten ritel PT Matahari Putra Prima Tbk. (MPPA) mencatat penurunan hingga 19,06 persen menjadi Rp8,65 triliun sepanjang 2019. Perusahaan ini mengoperasikan gerai Hypermart, Foodmart Primo, Hyfresh, FMX dan SmartClub

Sepanjang 2019, penjualan emiten bersandi saham MPPA  itu didominasi penjualan di segmen eceran dengan proporsi sebesar 96,67 persen. Adapun sisanya disumbang segmen grosir.

Produk segar mencatat pertumbuhan berkelanjutan yang kuat sebesar 4 persen dengan kontribusi penjualan 24 persen dari total penjualan pada tahun lalu. 

Di awal 2019, MPPA merilis format toko baru bertajuk HyFresh, konsep toko yang fokus pada produk segar dan kelontong dengan harga kompetitif untuk menarik minat  rumah tangga untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. 

Pada tahun lalu, MPPA juga fokus menghadirkan penawaran produk yang paling tepat dan  mengurangi barang yang tidak produktif dengan perputaran lambat. Upaya ini menghasilkan  arus kas yang lebih baik dan mengurangi Out of Stock ("OOS"). Tingkat Perputaran persediaan tercatat 55 hari, lebih pendek dari tahun 2018 selama 58 hari.

“Strategi di atas, ditambah dengan kebijakan penetapan harga yang baru, telah secara  substansial meningkatkan marjin laba bruto menjadi 18,3 persen dari penjualan, meningkat  441 basis poin dari 2018,” tulis manajemen MPPA dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis, Selasa (12/5/2020). 

Di sisi lain, walau masih menderita kerugian, jumlah kerugian yang ditanggung berkurang cukup signifikan. Rugi tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk menurun dari posisi Rp898,27 miliar pada 2018 menjadi Rp552,68 miliar pada 2019.

Usaha perusahaan menekan rugi dilakukan dengan efisiensi di hampir semua pos beban seperti beban pokok penjualan dan beban penjualan yang menurun masing-masing 23,2 persen dan 14,22 persen.

Manajemen MPPA menyebut,  langkah-langkah efisiensi operasional yang telah dilaksanakan sejak akhir 2017 telah menghasilkan perbaikan substansial pada struktur biaya di mana biaya pemasaran serta umum dan administrasi pada tahun 2019 turun sebesar 14,3 persen dengan penghematan total sebesar Rp299 miliar.

Perseroan juga mengklaim terus mengurangi bisnis B2B yang bermarjin rendah dan mengarahkan sumber daya untuk mendukung pertumbuhan bisnis ritel, walaupun hal ini menyebabkan total penjualan bersih tergerus.

Sementara itu, total aset perusahaan turun 20,54 persen dari posisi Rp4,81 triliun menjadi Rp3,82 triliun pada tahun lalu. Penurunan aset itu antara lain disebabkan oleh penurunan  total liabilitas dan ekuitas perusahaan terkoreksi masing-masing 10,09 persen menjadi Rp3,29 triliun dan 53,82 persen menjadi Rp530,68 miliar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Kinerja Emiten matahari putra prima
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top