Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Lockdown di AS Mulai Dilonggarkan, Harga Emas Turun

Harga emas turun tipis karena Amerika Serikat mulai melonggarkan lockdown di negaranya. Di samping itu, uji coba vaksin virus corona menambah tekanan bagi harga emas. Walaupun demikian, harga emas tetap bertahan di level US$1.700 per troy ounce.
Karyawan menunjukan emas batangan di Butik Emas Logam Mulia, Jakarta, Kamis (13/2/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Karyawan menunjukan emas batangan di Butik Emas Logam Mulia, Jakarta, Kamis (13/2/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Harga emas global mulai mengalami pelemahan seiring dengan rencana pelonggaran karantina wilayah atau lockdown di Amerika Serikat. Walaupun demikian, harga emas tetap bertahan di kisaran US$1.700 per troy ounce.

Dilansir dari Antara, Rabu (6/5/2020), harga emas Comex untuk kontrak pengiriman Juni 2020 turun 0,16 persen ke posisi US$1.710,6 dolar AS per troy ounce pada penutupan perdagangan Selasa (5/6/2020) di New York Mercantile Exchange.

Sedikitnya ada dua faktor yang membuat harga emas mulai menurun. Pertama, rencana pembukaan lockdown di Amerika Serikat. Para peneliti mulai melakukan uji coba vaksin kepada sukarelawan sebagai upaya penemuan vaksin virus corona (Covid-19). Hal ini memberikan menjadi sentimen negatif terhadap emas.

Kedua, penguatan mata uang dolar dan pasar saham bullish juga memberi tekanan pada emas. Indeks dolar AS yang mengukur greenback terhadap mata uang utama saingannya, naik 0,30 poin atau 0,30 persen, menjadi 99,79 pada pukul 17.50 GMT.

Tekanan juga datang dari pasar ekuitas, ketika Dow Jones Industrial Average naik 348,15 poin atau 1,47 persen, menjadi 24.097,91 poin pada pukul 18.00 GMT.

Kendati melemah, harga emas tidak langsung terjerembap berkat rilis data perekonomian AS. Pada Selasa (5/5/2020) Departemen Perdagangan AS melansir defisit perdagangan AS meningkat sebesar 12 persen pada Maret 2020. Impor AS tercatat turun 6,2 persen dan ekspor turun 9,6 persen.

Institute for Supply Management (ISM) mengumumkan survei indeks non-manufaktur untuk April turun 10,7 poin menjadi 41,8 dari 52,5 pada Maret, angka yang sedikit lebih baik dari yang diharapkan. Namun, analis pasar mencatat bahwa ini adalah pertama kalinya non-manufaktur berkontraksi sejak 2009, kemungkinan karena Covid-19.

Sebuah laporan yang dirilis oleh IHS Markit menunjukkan Indeks Manajer Pembelian (PMI) turun menjadi 26,7 pada April setelah mencapai angka 39,8 pada Maret.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Newswire
Editor : Rivki Maulana
Sumber : Antara
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper