Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Prospek Meyakinkan Saham Emiten Pangan Saat Momen Ramadan

Analis OSO Sekuritas Sukarno Alatas mengatakan emiten yang berkaitan dengan bahan pokok masih memiliki kemungkinan untuk bisa menghasilkan pendapatan seperti tahun sebelumnya dan bahkan berpotensi sedikit meningkat.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 26 April 2020  |  03:15 WIB
Kantor Japfa Comfeed - Ilustrasi/shareinv.com
Kantor Japfa Comfeed - Ilustrasi/shareinv.com

Bisnis.com, JAKARTA - Prospek emiten pangan khususnya produk makanan pokok diperkirakan masih berpotensi bertumbuh apalagi saat momen bulan Ramadan.

Hanya saja, para analis menilai tantangan dari situasi pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar di seluruh Indonesia adalah dari segi ketersedian stok bahan baku.

Analis OSO Sekuritas Sukarno Alatas mengatakan emiten yang berkaitan dengan bahan pokok masih memiliki kemungkinan untuk bisa menghasilkan pendapatan seperti tahun sebelumnya dan bahkan berpotensi sedikit meningkat.

“Mungkin bagi (masyarakat) yang mampu mereka melakukan stok lebih banyak dari biasanya. Kemudian untuk emiten-emiten unggas saya rasa kesempatan di bulan Ramadan ini atau di lebaran,” ungkapnya kepada Bisnis.com.

Namun, dirinya mengaku ragu permintaan bisa tinggi seperti tahun sebelumnya karena mengingat kondisi saat di tengah pandemi ini menekan laju konsumsi.

Sukarno menjelaskan harga ayam saat ini mengalami penurunan signifikan dikarenakan pengaruh permintaan yang rendah sedangkan pasokan melambung tinggi.

Apalagi dengan kondisi pandemi yang masih berlanjut setelah lebaran dapat ia pastikan kinerjanya tahun ini tidak akan terlalu baik untuk emiten unggas.

Untuk itu, Sukarno lebih menjagokan emiten beras yakni PT Buyung Poetra Sembada Tbk. (HOKI) dibandingkan dengan PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) dan PT Mayora Indah Tbk. (MYOR).

Senada, analis FAC Sekuritas Wisnu Prambudi Wibowo menuturkan prospek emiten pangan terkhususnya bahan makanan pokok masih cukup baik di tengah pandemi COVID-19, dalam artian masih bisa bertahan dibandingkan industri sektor lain.

“Kalau peluang meningkat pendapatannya ada, namun seberapa besarnya itu yang kita masih harus berhitung lagi. Adanya larangan mudik lebaran juga bisa menjadi penghambat perputaran uang untuk mengkonsumsi produknya di daerah-daerah,” ungkap Wisnu.

Ia juga memproyeksikan kinerja keuangan HOKI pada kuartal kedua tahun ini akan cukup baik karena produk-produknya mencakup kebutuhan primer.

Lebih lanjut, Mirae Asset Sekuritas pun menjagokan saham HOKI dengan rekomendasi buy atau beli dengan target harga Rp1.140.

Analis Mirae Asset Sekuritas Andy Wibowo Gunawan menuturkan pihaknya mempertahankan estimasi keuangan HOKI dengan target harga tersebut menggunakan metodologi campuran (DCF dan P/E) karena pihaknya menimbang estimasi keuangan HOKI akan lebih mudah diprediksi di masa mendatang.

Menurutnya, permintaan produk beras dari channel modern akan lebih kuat ditambah dengan kenaikan demand selama bulan puasa dan hari raya Idul Fitri mendatang.

“Sepanjang mystery shopping kami, orang-orang mid-to-up income banyak membeli beras HOKI di modern channel. Namun, kami khawatir permintaan beras di traditional channel akan mengalami penurunan seiring dengan banyaknya warung-warung makan yang tutup,” ungkap Andy dalam risetnya.

Berdasarkan pengamatan sekuritas, warung-warung makan tersebut adalah motor penggerak permintaan beras di traditional channel. Disamping itu, dia juga mengkhawatirkan peralihan dari produk beras kelas premium ke level medium untuk konsumen yang datang dari pekerja sektor informal.

“Dengan tidak berubahnya asumsi kami, kami memperkirakan laba bersih HOKI untuk proyeksi tahun 2020 dan 2021 masing-masing akan mencapai Rp124 miliar dan Rp129 miliar (+19,4 persen dan +4,3 persen yoy),” pungkasnya.

Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta Utama menyatakan meski memberikan status hold pada saham-saham emiten pangan, namun investor bisa perlahan menyicil beli saham-saham emiten bahan pokok berikut juga unggas dan daging.

“Semuanya menarik, sudah bisa maintain buy,” ungkapnya.

Beberapa saham yang direkomendasikannya adalah HOKI pada area beli di level Rp685-Rp695, dan target profit hingga Rp850, serta ICBP pada area beli di level Rp9.325-Rp9.625 dan target harga hingga Rp10.750.

Adapun, saham MYOR juga ia rekomendasikan pada level harga beli Rp1.710-Rp1.810 dan target harga hingga Rp2.270.

Lebih lanjut, ia juga merekomendasikan saham unggas seperti JPFA, CPIN dan MAIN pada target harga Rp1.415, Rp5.500 dan Rp855. Saham produsen daging olahan BEEF juga ia rekomendasikan beli dengan target profit hingga Rp326.

Dihubungi terpisah, Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan sejak pandemi berlangsung emiten pangan memang memiliki koreksi paling kecil dibanding dengan sektor lain.

Dia pun memperkirakan sektor pangan masih akan bertumbuh pada momentum bulan Ramadan sehingga menjadi saham-sahamnya sudah layak dikoleksi.

“Saya melihat potensi (pergerakan positif sektor pangan) kesana. Proyeksi penjualan menurun terkait PSBB dan pembatasan mudik, namun secara year to date emiten pangan koreksinya paling kecil dibanding sektor lain,” imbuhnya.

Baginya, emiten pangan seperti ICBP dan INDF menjadi menarik saat penerapan PSBB dan momentum bulan puasa seperti saat ini karena merupakan menawarkan produk makanan dan minuman yang dibutuhkan masyarakat.

“ICBP dalam 3 bulan ke depan targetnya Rp11,000, dan INDF targetnya Rp7.100,” pungkasnya

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

indofood mayora Buyung Poetra Sembada
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top