Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Gajah Tunggal (GJTL) Klaim Akan Tetap Produksi Meski ada Pandemi

Corporate Communication & Investor Relations Director Gajah Tunggal Catharina Widjaja mengatakan bahwa perseroan akan tetap beroperasi karena perseroan termasuk ke dalam salah satu industri yang dikecualikan dari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
/Ilustrasi
/Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA – PT Gajah Tunggal Tbk., emiten produsen ban terbesar di Asia Tenggara, menyatakan akan tetap menjaga operasional pabrik tetap berproduksi di tengah pandemi.

Corporate Communication & Investor Relations Director Gajah Tunggal Catharina Widjaja mengatakan bahwa perseroan akan tetap beroperasi karena perseroan termasuk ke dalam salah satu industri yang dikecualikan dari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Perseroan diketahui memiliki sejumlah pabrik yang berlokasi di Tangerang. Daerah tersebut menjadi salah satu daerah yang telah menerapkan PSBB bersama dengan daerah lainnya seperti DKI Jakarta dan Bandung Raya.

“Perusahaan adalah salah satu sektor industri yang dikecualikan dari PSBB dan masih tetap beroperasi. Kami juga telah melakukan beberapa tindakan untuk mengantisipasi perubahan permintaan serta untuk melindungi dan mencegah penyebaran Covid-19 di dalam perusahaan,” katanya kepada Bisnis.com, Kamis (23/4/2020).

Dia mengatakan dengan perkembangan pandemi Covid-19 kinerja keuangan perseroan dipastikan akan terganggu. Namun, seberapa besar dampaknya menurut Catharina masih perlu dikaji sesuai dengan durasi pandemi tersebut.

Perseroan juga akan melakukan strategi memperpanjang tenor utang jangka pendek sebagai antisipasi risiko di tengah kondisi pandemi.GJTL diketahui memiliki utang jangka pendek cukup besar dalam denominasi dolar AS yang menguat cukup besar terhadap rupiah sepanjang tahun ini.

Sebelumnya perseroan menargetkan dapat membukukan pertumbuhan penjualan sebesar 5 persen—8 persen pada tahun ini. Strateginya kala itu adalah memanfaatkan potensi pasar yang meningkat serta bauran produk baru.

Dia menjelaskan, pada tahun lalu perseroan juga berhasil mencatatkan penjualan yang stabil meski pasar otomotif mengalami penurunan sekitar 11 persen. Dia mengatakan hal itu disebabkan oleh fokus bisnis perseroan yang lebih banyak menyasar pasar replacement.

“Kami melihatnya perkembangan pasar stabil. Penurunan penjualan otomotif tidak begitu berdampak karena Gajah Tunggal lebih besar di pasar replacement yang berkontribusi sekitar 85 persen—90 persen kepada penjualan perusahaan,” jelasnya.

Hasil produksi Gajah Tunggal pada 2019 lebih banyak diserap oleh permintaan di pasar domestik. Secara total, serapan lokal pada 2019 mencapai kisaran 55 persen hingga 60 persen, dan sisanya diserap oleh pasar luar negeri.

Catharina mengatakan bahwa pihaknya belum dapat memaparkan angka penjualan total pada tahun lalu karena masih menunggu proses audit laporan keuangan. Kendati demikian, berdasarkan data penjualan hingga September 2019, penjualan Gajah Tunggal tercatat meningkat 3,8 persen secara tahunan.

Sebelumnya, Moody’s Moody’s Investor Service telah memangkas peringkat corporate family rating (CFR) emiten berkode saham GJTL itu dari B3 menjadi Caa1. Moody’s juga menurunkan peringkat utang sindikasi perbankan senilai US$250 juta yang akan jatuh tempo pada Agustus 2022 menjadi Caa1. Adapun, outlook yang disematkan tetap negatif.

Analis Moody’s Stephanie Cheong mengatakan bahwa revisi peringkat ini merefleksikan ekspektasi terhadap kinerja emiten berkode saham GJTL tersebut yang akan terhantam pelemahan nilai tukar.

“Berdasarkan ekspektasi kami, GJTL secara umum tidak memitigasi eksposur pelemahan kurs rupiah yang jika terus terjadi akan meningkatkan utang dan menurunkan margin EBITDA perseroan,” ujarnya dikutip dari keterangan resmi, Selasa (31/3/2020).

Dia mengatakan bahwa jika nilai tukar rupiah terus memburuk, maka profitabilitas dan arus kas perseroan akan terganggu. Hal ini juga akan membuat perseroan kian bergantung pada sumber pendanaan jangka pendek.

Pendapatan Gajah tunggal hampir seluruhnya didapatkan dalam denominasi rupiah, sementara hampir seluruh biaya bahan material kasarnya didapatkan dalam dolar AS. Selain itu, hampir seluruh utang perseroan juga dicatatkan dalam denominasi dolar.

Dengan tren rupiah yang terus melemah karena keluarnya arus modal portofolio belakangan ini, Moody’s memperkirakan setiap 10 persen penurunan kurs rupiah akan menurunkan margin earning before interest, taxes, depreciation, and amortization (EBITDA) perseroen sebesar 2 persen.

Dari sisi liabilitas, perseroan juga memiliki utang jangka panjang senilai US$397 juta. Namun, perseroan hanya memberlakukan lindung nilai atau hedging terhadap utang senilai US$184 juta. Lindung nilai itu juga hanya melindungi hingga nilai Rp14.811 per dolar AS. Persoalan utang juga akan bertambah rumit mengingat beban bunga tidak mendapatkan lindung nilai.

Moody’s memperkirakan posisi kas bersih dari aktivitas operasi dalam 12 bulan ke depan akan mencapai US$30 juta. Perseroan juga memiliki kas sebesar US$46 juta berdasarkan laporan keuangan per September 2019.

Namun, posisi kas tersebut dinilai tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan belanja modal senilai US$30 juta dan amortisasi pinjaman bank yang mencapai US$53 juta. Perseroan juga tercatat memiliki total pinjaman modal kerja jangka pendek sebesar US$86 juta yang mayoritas akan jatuh tempo pada Agustus 2020.

Di sisi lain ruang gerak perseroan untuk menarik kembali pinjaman akan semakin terbatas. Pasalnya, perseroan harus menjaga rasio net debt/EBITDA di level 4,5 kali dan rasio debt service coverage di level 1,05 kali sesuai dengan perjanjian dalam pinjaman sindikasi bank yang akan jatuh tempo Agustus 2022.

Per akhir September 2019, posisi kedua rasio tersebut adalah 4,02 kali dan 1,09 kali. Posisi kedua rasio itu menggambarkan bahwa perseroan tidak punya bantalan yang cukup kuat untuk menahan penurunan EBITDA ataupun kenaikan level utang karena depresiasi rupiah yang berkepanjangan.

Hingga saat ini perseroan belum merilis data posisi keuangan terbarunya, baik untuk kinerja 2019 maupun kuartal I/2020.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper