Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Harga Minyak Jatuh ke Level Terendah Sejak Maret 2002

Harga minyak kini berada di jalur untuk mengalami kuartal terburuknya dalam sejarah. Goldman Sachs Group Inc. memperkirakan konsumsi akan turun 26 juta barel per hari pekan ini karena langkah-langkah untuk menahan virus corona merugikan PDB global.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 31 Maret 2020  |  05:23 WIB
Ilustrasi harga minyak mentah turun - Antara
Ilustrasi harga minyak mentah turun - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah jatuh ke level terendah 18 tahun, di tengah pemberlakukan lockdown di banyak negara akibat pandemi virus corona (Covid-19) yang berdampak pada rontoknya permintaan dan membengkaknya surplus komoditas ini.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) ditutup turun tajam US$1,42 ke level US$20,09 per barel di New York Mercantile Exchange pada perdagangan Senin (30/3/2020).

Adapun harga minyak Brent berakhir anjlok US$2,17 ke level US$22,76 per barel di ICE Futures Europe Exchange.

Dilansir Bloomberg, kontrak berjangka Brent di London anjlok 9 persen ke level terendahnya sejak Maret 2002, meskipun Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk membahas pentingnya pasar energi yang stabil.

Kelebihan pasokan yang besar semakin menghancurkan struktur pasar minyak dan mungkin akan ada lebih banyak penurunan seiring dengan semakin tergerusnya kapasitas penyimpanan.

Sementara itu, merosotnya permintaan telah mendorong penutupan kilang-kilang mulai dari Afrika Selatan hingga Kanada, sehingga menyebabkan kelebihan suplai minyak di pasar.

Di pusat penyimpanan utama Cushing, Oklahoma, persediaan minyak dikabarkan telah menggelembung lebih dari 4 juta barel pekan lalu. Hal ini serta merta meningkatkan kekhawatiran tentang batas kapasitas penyimpanan yang dicapai.

“Pasar minyak bergerak lebih rendah dan akan terus ke posisi yang lebih rendah karena ada penurunan secara global,” ujar John Kilduff dari Again Capital LLC.

“Seperti yang kita lihat, titik-titik tertentu seperti Cushing medekati batasnya, itu hanya akan memberikan tekanan yang lebih besar pada harga sampai kita mencapai clearing point,” tambahnya.

Harga minyak kini berada di jalur untuk mengalami kuartal terburuknya dalam sejarah. Goldman Sachs Group Inc. memperkirakan konsumsi akan turun 26 juta barel per hari pekan ini karena langkah-langkah untuk menahan virus corona merugikan PDB global.

Konsultan FGE memperkirakan bahwa tingkat operasi kilang telah dipangkas sebesar lebih dari 5 juta barel per hari di seluruh dunia, dan dapat mencapai titik terendah (bottom) antara 15 juta dan 20 juta lebih rendah.

Sementara itu, Arab Saudi dan Rusia tidak menunjukkan tanda-tanda pengenduran dalam perseteruan mereka mengenai pasokan. Saudi mengumumkan rencana untuk meningkatkan ekspor minyaknya dalam beberapa bulan mendatang.

"Apa yang benar-benar memukul pasar adalah sinyal yang kami dapatkan dari Arab Saudi dan Rusia bahwa mereka bermaksud untuk melanjutkan langkah mereka saat ini,” ujar Vivek Dhar, seorang analis komoditas di Commonwealth Bank of Australia.

Kemerosotan harga minyak sendiri telah membebani beberapa negara OPEC. Aljazair, yang memegang presiden bergilir kartel, mendesak sekretariat untuk membentuk panel tetapi seruan itu gagal mengumpulkan dukungan mayoritas yang diperlukan untuk menindaklanjutinya. Riyadh adalah salah satu pihak yang menentang gagasan itu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak Virus Corona
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top