Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Dibalik Lesunya Saham dan Potensi Dividen Emiten BUMN

Ada 8 saham yang mendorong rebound Indeks BUMN 20 pada perdagangan Jumat (20/3/2020).
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 23 Maret 2020  |  07:22 WIB
Menteri BUMN Erick Thohir mengikuti rapat kerja dengan Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (20/2/2020). - ANTARA / Rivan Awal Lingga
Menteri BUMN Erick Thohir mengikuti rapat kerja dengan Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (20/2/2020). - ANTARA / Rivan Awal Lingga

Bisnis.com, JAKARTA - Kinerja Indeks BUMN 20 belum seapik Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang juga tengah berada dalam tekanan. Bayang-bayang dampak corona atau Covid-19 pun membatasi kinerja keuangan BUMN dan potensi pemberian dividen.

Mengutip data Bloomberg, Indeks BUMN 20 akhir pekan kemarin menguat 1,47 persen atau 3,26 poin menjadi 225,25. Namun demikian, sepanjang tahun berjalan harga masih terkoreksi 42,3 persen.

Bila dibandingkan dengan IHSG, indeks yang mencakup 686 emiten ini menguat 2,18 persen atau 89,5 poin ke level 4.194,94. Sepanjang 2020 harga terkoreksi 33,41 persen.

Ada 8 saham yang menguat dan mendorong kinerja Indeks BUMN 20 pada Jumat lalu. Saham PTBA menjadi pendorong utama dengan penguatan 21,21 persen. Selanjutnya, SMGR meningkat 20 persen, dan WEGE menanjak 10,94 persen.

Selanjutnya, saham TLKM menghijau 9,92 persen, saham BJBR menguat 8,27 persen, saham TINS naik 7,95 persen, saham ELSA meningkat 3,76 persen, dan saham ANTM naik 3,31 persen.

Sementara itu, saham yang menjadi penekan utama Indeks BUMN 20 adalah BBNI yang anjlok 6,91 persen, BMRI turun 6,89 persen, WIKA merosot 6,74 persen, PTPP terkoreksi 6,72 persen, dan PGAS menurun 6,71 persen.

Di sisi lain, kondisi ekonomi yang bergejolak akibat penyebaran virus corona dikhawatirkan akan memukul kinerja perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Pengamat BUMN sekaligus Kepala Lembaga Manajemen FEB Universitas Indonesia Toto Pranoto menjelaskan krisis akibat penyebaran wabah Covid-19 tidak akan berhenti dalam waktu dekat.

Dia mengatakan bahwa hal ini masih akan terjadi dalam beberapa bulan ke depan dan akan berdampak terhadap kinerja perusahaan pelat merah. Hal ini, lanjutnya, akan memengaruhi setoran dividen BUMN pada tahun depan.

“Pemulihan aktivitas ekonomi mungkin baru bisa jalan di awal semester II tahun ini. Jadi, secara realistis kemungkinan realisasi dividen BUMN pada 2020, saya kira memang bisa menurun,” katanya kepada Bisnis.com

Menurutnya, sejauh ini peran BUMN sangat dimaksimalkan oleh pemerintah untuk mencegah penyebaran corona. Hal itu terlihat dari utilisasi optimum RS dan industri farmasi BUMN untuk membantu penanganan virus corona.

Jika krisis akibat wabah covid-19 ini terus berlanjut, BUMN juga harus siap dengan kondisi terburuk seperti kebijakan lockdown. BUMN di sektor pangan, perhubungan, telekomunikasi, migas, dan kelistrikan akan memiliki peranan vital.

“Mereka harus siap dengan kondisi terburuk yang akan dihadapi, misalnya kebijakan lockdown. Prinsipnya, sebisa mungkin jangan sampai ada layanan publik terganggu karena ketidaksiapan operator, dalam hal ini BUMN,” jelasnya.

Kinerja Laba Bersih dan Dividen BUMN (Rp triliun)
TahunLaba BersihDividen
201515037,6
201617637,1
201718643,9
201818845,1
2019*20079,7
2020*-49**

*Proyeksi

** Outlook APBN 2020

Sumber: APBN, Kementerian BUMN

Kementerian BUMN menilai penyebaran virus corona dan pelemahan nilai tukar rupiah dapat menyebabkan kinerja BUMN tertekan, sehingga akan berpengaruh terhadap setoran dividen tahun depan. Artinya, ada kemungkinan kondisi laba bersih tahun ini cukup menantang.

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan bahwa pemerintah siap menerima kenyatakan sejumlah perusahaan BUMN akan rugi pada tahun ini. Menurutnya, kerugian ini tak terhindarkan karena kondisi ekonomi global ikut tertekan.

“Mengenai pendapatan BUMN, yang hari ini ya kita harus siap rugi, karena bukan rugi-rugian, tapi karena memang di dunia kondisinya seperti ini, kami juga lakukan [financial] stress test kepada perusahaan BUMN yang terdampak,” jelasnya.

Dia juga mengatakan kondisi ini akan memengaruhi potensi setoran dividen BUMN pada tahun depan. Menurutnya, target paling realistis saat ini adalah tetap mempertahankan nilai setoran dividen.

Tahun ini, target setoran dividen BUMN mencapai sekitar Rp49 triliun. Kementerian BUMN memiliki target kontribusi pajak, dividen, dan royalti BUMN tumbuh 50 persen dalam 5 tahun ke depan.

“Jujur saja pasti agak berat [target dividen] yang tadinya mau ditingkatkan. Lebih baik jujur, daripada bohongi diri sendiri. Kami berharap dividen tahun depan bisa tetap, tapi tidak mungkin tidak tercapai, tapi kita harus lakukan dari sekarang antisipasi ini, memang sangat berat, sangat berat, tapi itulah yang harus kita hadapi,” paparnya.

Dia menuturkan BUMN di sektor penerbangan, pariwisata, dan hotel akan sangat terdampak penyebaran virus corona. PT Garudan Indoesia (Persero) Tbk. adalah salah satu BUMN yang mendapat sorotan.

Bisnis emiten berkode saham GIIA itu dipastikan tersendat lantaran berkurangnya aktivitas penerbangan domestik dan luar negeri. Rute penerbangan langsung ke Arab Saudi dan Australia yang selama ini menjadi pasar utama perseroan sudah ditutup.

Di sisi lain, Garuda Indonesia tengah berhadapan dengan persoalan jatuh tempo utang bank dan obligasi dalam denominasi dolar yang cukup besar. Kedua hal ini membuat Garuda berada dalam ancaman serius.

Meski begitu, dia mengatakan bahwa Kementerian BUMN tengah mencari solusi untuk mengatasi persoalan Garuda Indonesia. Kementerian tengah melakukan negosiasi bisnis untuk memperlunak sejumlah utang yang akan jatuh tempo. Salah satunya, dengan meminta bantuan dari bank BUMN.

“Dari 1,5 bulan lalu kita sudah adakan negosiasi secara menyeluruh, secara Garuda-nya, ada upaya bagaimana bank-bank himbara juga membantu sektor hotel, restoran, juga soal penerbangan,” ujarnya.

Di luar Garuda Indonesia, perusahaan pelat merah lain seperti PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) juga memiliki utang valas yang cukup besar. Namun, menurutnya PLN tidak memiliki risiko besar seperti Garuda Indonesia.

“Kami sudah antisipasi tapi hasilnya belum bisa dikasih tahu, kami sedang proses untuk Garuda. Yang lain masih cukup aman karena utang bank, dan sifatnya itu berproses. Kalau PLN itu juga tidak masuk kategori utang, hanya cashflow,” jelasnya.

Kendati mempersiapkan segala risiko terburuk bagi kelangsungan bisnis perusahaan BUMN pada tahun ini, Erick tetap optimistis sinergi antar lembaga dan BUMN akan berkontribusi positif. Dia mengharapkan, perusahaan BUMN bisa pulih setelah dampak virus corona berlalu.

“Insyaallah ada jalan, karena saya yakin indonesia ini negara besar, pasti kita akan recover juga dalam waktu beberapa bulan ke depan,” ujarnya.

PNBP Pemerintah Atas Laba BUMN 9 Terbesar
BUMN20152016201720182019*
PT Bank BRI (Persero) Tbk4,14,467,59,3
PT Telkom (Persero) Tbk4,65,96,16,78,5
PT Pertamina (Persero)6,37,311,68,68
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk33,73,75,66,8
PT PLN (Persero)42,12,20,34
PT Bank BNI (Persero) Tbk1,61,42,42,92,3
PT Pegadaian (Persero)1,61,42,42,92,3
PT Inalum (Persero)-0,30,31,91,1
PT Pupuk Indonesia (Persero)2,11,51,10,81

*proyeksi

Sumber: Kementerian Keuangan

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

saham BUMN dividen
Editor : Hafiyyan
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top