Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Corona Meluas, Obligasi Indonesia Tetap Dicari

Para investor berusaha untuk menjaga return on investment pada portofolionya tetap optimal.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 17 Maret 2020  |  17:53 WIB
Karyawan mencari informasi tentang obligasi di Jakarta, Rabu (17/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam
Karyawan mencari informasi tentang obligasi di Jakarta, Rabu (17/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Di tengah jumlah penawaran lelang yang terus menurun, Surat Utang Negara (SUN) dinilai masih cukup dicari oleh para investor untuk memaksimalkan return portofolio investasi.

Associate Direktur of Research and Investment Pilarmas Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan meskipun terus menunjukkan penurunan dari sisi jumlah penawaran, hasil lelang pada hari ini masih cukup baik. Hal ini menandakan para investor masih cukup mempercayai pasar obligasi Indonesia di tengah ketidakpastian global.

Menurutnya salah satu faktor utama obligasi negara masih diminati investor adalah pilihan aset aman yang kian terbatas. Saat ini, para investor masih menghindari pasar saham dan aset-aset safe haven, seperti emas dan lebih memilih untuk memegang uang tunai untuk menjaga likuiditas.

Para investor tersebut berusaha untuk menjaga return on investment pada portofolionya tetap optimal. Meskipun sedang tertekan, jenis investasi seperti obligasi memiliki volatilitas yang cenderung lebih rendah bila dibandingkan dengan saham.

“Mereka (investor) mencari alternatif investasi yang aman. Kami melihat obligasi Indonesia masuk dalam kategori ini karena kuponnya masih menarik dan volatilitasnya terjaga sehingga masih digemari oleh para investor,” katanya saat dihubungi pada Selasa (17/3/2020).

Hal senada juga diungkapkan oleh Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto. Menurutnya, hasil lelang hari ini menandakan likuiditas pasar obligasi yang masih cukup baik meskipun diguncang sentimen wabah virus corona.

Dia mengatakan tekanan di pasar obligasi dalam dua hari terakhir mengalami penurunan bila dibandingkan dengan minggu lalu. Hal tersebut disebabkan oleh kebutuhan para investor terhadap instrumen lain, seperti obligasi sedikit meningkat.

Meski demikian, penurunan angka penawaran ini juga menandakan masih banyak investor yang menganut strategi wait and see dan belum berani kembali terjun ke pasar obligasi negara. Salah satu faktornya adalah virus corona yang penyebarannya kian meluas di Indonesia dan perpanjangan masa tanggap darurat wabah ini yang diperpanjang hingga akhir Mei 2020.

“Likuiditas cukup terjaga meskipun memang masih cukup tertekan. Hal ini ikut menekan likuiditas pasar yang berdampak pada turunnya daya beli,” katanya.

Sebelumnya, lelang tujuh seri Surat Utang Negara (SUN) yang dilakukan pada hari ini menghasilkan total penawaran sebesar Rp51,3 triliun. Dari jumlah tersebut, pemerintah memenangkan Rp17,05 triliun.

Jumlah penawaran yang masuk pada hari ini mengalami penurunan bila dibandingkan dengan hasil penawaran pada lelang SUN pada 3 Maret 2020 lalu sebesar Rp78,41 triliun.

Berdasarkan data dari laman Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, SUN Seri SPN12210304 menjadi yang paling dicari investor dengan jumlah penawaran yang masuk sebesar Rp18,2 triliun. Seri akan jatuh tempo pada 4 Maret 2021 ini sekaligus menjadi seri yang paling banyak dimenangkan sebanyak Rp6,4 triliun oleh pemerintah dengan imbal hasil (yield) rata-rata 3,35 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

surat utang negara Obligasi Pemerintah
Editor : Annisa Sulistyo Rini
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top