Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

IHSG Kembali Bugar, Mayoritas Saham Farmasi Menguat

Dari 9 emiten farmasi yang diperdagangkan, 6 di antaranya terpantau ditutup menguat pada perdagangan Rabu (4/3/2020).
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 05 Maret 2020  |  06:30 WIB
Pedagang obat melayani pembeli di Pasar Pramuka, Jakarta, Selasa (11/02/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Pedagang obat melayani pembeli di Pasar Pramuka, Jakarta, Selasa (11/02/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Harga saham emiten sektor farmasi mayoritas menghijau pada penutupan perdagangan Rabu (4/3/2020). Dari 9 emiten farmasi yang diperdagangkan, 6 di antaranya terpantau ditutup menguat.

Saham-saham tersebut juga berhasil mengerek indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup pada zona hijau dengan kenaikan sebesar 2,38 persen atau 131,508 poin ke level 5650,136.

Harga saham emiten farmasi BUMN, PT Indofarma (Persero) Tbk. (INAF) memimpin deretan emiten farmasi dengan kenaikan terbesar pada perdagangan hari ini.

Emiten bersandi saham INAF tersebut ditutup dengan kenaikan sebesar 8,27 persen atau naik 55 poin ke level Rp720. Harga saham perseroan yang akan berfokus memproduksi alat kesehatan tersebut bahkan sempat melonjak 16,54 persen, naik 110 poin pada awal perdagangan ke level Rp775.

Dengan total volume transaksi sebanyak 16,83 juta lembar saham, nilai transaksi INAF mencapai Rp12,22 miliar dengan total frekuensi transaksi sebesar 4.398 kali pada hari ini.

Adapun, Mandiri Sekuritas menjadi sekuritas yang paling aktif membeli saham INAF dengan total pembelian Rp2,45 miliar dan volume transaksi sebesar 3,39 juta lembar saham.

Mirae Asset Sekuritas menjadi sekuritas yang paling aktif menjual saham INAF dengan volume transaksi sebanyak 2,61 juta lembar saham dan nilai transaksi sebesar Rp1,9 miliar.

Selain INAF, beberapa emiten farmasi yang juga ditutup pada zona hijau hari ini adalah PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO), PT Darya-Varia Laboratoria Tbk. (DVLA), PT Tempo Scan Pacific Tbk. (TSPC), PT Merck Tbk (MERK).

Sementara emiten farmasi BUMN seperti PT Kimia Farma (Persero) Tbk. (KAEF) dan PT Phapros Tbk. (PEHA) ditutup statis, satu emiten farmasi yakni PT Pyramid Farma Tbk ditutup melemah pada perdagangan Rabu (4/3/2020).

Berdasarkan data Bloomberg, berikut data saham emiten farmasi dengan persentase kenaikan tertinggi

Saham Emiten Farmasi Dengan Kenaikan Tertinggi

SahamHarga Sebelumnya (Rp)Harga Tertinggi (Rp)Harga Penutupan Rabu 4/3 (Rp)Perubahan saat penutupan (persen)
INAF6657757208,27
KLBF1210129012755,37
SIDO1220127012603,28
DVLA2170221022101,84
TSPC1240127512601,61
MERK2000215020100,50
KAEF745765745-
PEHA900925900-
PYFA187178178(-4,81)

 

Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan menyampaikan kenaikan harga saham emiten farmasi ini sangat berhubungan dengan sektor kesehatan yang memang sedang menjadi fokus masyarakat saat ini akibat dari penyebaran virus corona di Indonesia.

 “Korelasinya pasti ada, beberapa emiten naik signifikan karena saham-saham tersebut relate dengan kesehatan,” ujarnya.

 Namun, dia belum ingin merekomendasikan saham-saham emiten farmasi karena penguatannya belum signifikan.

 “Kalau kita lihat KLBF memang lebih kepada recovery saja, penguatannya juga tidak cukup signifikan. Hari ini lebih maksimal karena kalau dilihat saham-saham frontliner-nya yang lebih mendominasi,” imbuhnya.

 Alfred menyatakan, kenaikan harga saham emiten farmasi pada hari ini hanya dipengaruhi ekspektasi terhadap industri kesehatan yang akan memenuhi permintaan kebutuhan obat-obatan.

 Padahal secara fundamental, dia juga memperkirakan tidak ada kenaikan penjualan yang cukup signifikan, sehingga akan mendongkrak kinerja fundamental beberapa emiten farmasi pada kuartal I/2020.

 Head of Research Samuel Sekuritas, Suria Dharma, berpendapat adanya permasalahan dalam emiten farmasi karena masih cenderung ketergantungan bahan baku dari impor. Karena penyebaran corona yang berdampak ke industri, ketersediaan bahan baku terganggu.

 “Farmasi itu kan sebenarnya mestinya bagus karena ada corona seperti sekarang. Tapi masalahnya bahan baku farmasi mayoritas dari China,” ujarnya.

 Alhasil, Suria pun menyebut kenaikan harga saham emiten farmasi ini hanya momentum belaka karena adanya penurunan yang signifikan selama beberapa pekan terakhir.

 Berbeda dengan Alfred dan Suria, Head of Equity Trading MNC Sekuritas Medan Frankie Wijoyo Prasetio menyatakan saat ini merupakan saat yang tepat untuk membeli saham emiten farmasi. Hal ini dikarenakan valuasi harganya saham emiten ini sudah sangat terdiskon.

 “KLBF dan TSPC adalah beberapa emiten dari sektor farmasi ini yang layak untuk diakumulasi. (Target harga) KLBF di Rp1.400 dan TSPC di Rp1.450,” imbuh Frankie.

 Dia tidak merokemendasikan emiten farmasi BUMN seperti KAEF dan INAF, karena bercermin dari laporan keuangannya, kinerja KAEF mengalami penurunan, sedangkan INAF malah mencatatkan kerugian.

 Meski begitu, Frankie menyebut kenaikan harga saham ini tidak akan berlangsung lama dan saham-saham emiten farmasi tidak cocok dikoleksi untuk investasi jangka panjang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

emiten farmasi
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top