Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sinarmas Sekuritas Pede dengan Obligasi SMAR

Rencananya, SMAR akan menerbitkan surat utang senilai Rp1 triliun. Perseroan akan menggunakan dana itu untuk meningkatkan kapasitas produksi biodiesel.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 04 Maret 2020  |  20:40 WIB
Wakil Direktur Utama PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk. Edy Saputra Suradja (dari kanan) berbincang dengan Direktur Independen Lukmono Sutarto, Komisaris Independen Susiyati B. Hirawan, Komisaris Independen Teddy Pawitra dan Komisaris Independen Endro Agung Partoyo sebelum Rapat Umum Pemegang Saham di Jakarta, Rabu (27/6/2018). - JIBI/Abdullah Azzam
Wakil Direktur Utama PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk. Edy Saputra Suradja (dari kanan) berbincang dengan Direktur Independen Lukmono Sutarto, Komisaris Independen Susiyati B. Hirawan, Komisaris Independen Teddy Pawitra dan Komisaris Independen Endro Agung Partoyo sebelum Rapat Umum Pemegang Saham di Jakarta, Rabu (27/6/2018). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Penerbitan surat utang jumbo senilai Rp1 triliun oleh PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk. (SMAR) mendapatkan penilaian positif.

Selaku penjamin pelaksana emisi efek, Direktur Sinarmas Sekuritas Kerry Rusli mengatakan sejauh ini belum ada pembeli tetap bagi surat utang yang bakal diterbitkan itu. Saat ini, lanjutnya, masih dalam tahap bookbuilding.

Meski demikian, Kerry menilai surat utang yang diterbitkan pada awal tahun ini khususnya untuk emiten sektor perkebunan masih terbilang menarik. Pasalnya, pada kuartal I/2020 saja sudah ada tiga emiten yang bakal menerbitkan surat utang.

“[Penerbitan surat utang] masih bagus,”katanya pada Rabu (4/3/2020).

Rencananya, SMAR akan menerbitkan surat utang senilai Rp1 triliun. Perseroan akan menggunakan dana itu untuk meningkatkan kapasitas produksi biodiesel. PT Peringkat Efek Indonesia (PEFINDO) memberikan peringkat A+ untuk obligasi yang akan diterbitkan.

Analis Pefindo Christyanto Wijaya mengatakan rating itu diberikan karena bisnis model yang dijalankan oleh SMAR terintegrasi dari hulu ke hilir. Dengan begitu, SMAR memperoleh pendapatan yang beragam dari produk refinery.

“Kami juga melihat permintaan crude palm oil yang tinggi disebabkan program B30. Setidaknya akan ada tambahan sebesar 3 juta ton tahun ini dan itu mengerek harga,” katanya.

Adapun faktor yang beresiko adalah struktur permodalan yang besar membuat rasio debt to Ebitda SMAR sebesar 7 kali per kuartal III/2019. Menurutnya dari total utang Rp12,7 triliun, sekitar Rp6,2 triliun merupakan utang jangka pendek.

Chrisyanto menilai rasio debt to Ebitda akan sekitar 5,7 kali dalam tiga tahun ke depan. “Kami melihat total utang SMAR dalam tiga tahun ke depan akan tinggi karena butuh modal kerja yang besar. Di sisi lain, SMAR juga berniat menambah utang baru sebesar Rp1 triliun,” ungkapnya.

Pada penutupan hari ini SMAR ditutup melemah 20 poin atau 0,55 persen ke level Rp3.610 per saham. Bloomberg mencatat price earning ratio (PER) perseroan sebesar 9,28 dengan dividen mencapai 20,78 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sinar mas agro resources an technology
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top