Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Diversifikasi Power Plant Adaro Energy (ADRO) Dinilai Belum Dorong Kinerja

Analis Samuel Sekuritas Desi Lapagu mengatakan bahwa diversifikasi melalui entitas anak usaha PT Tanjung Power Indonesia (TPI) dan PT Bhimasena Power Indonesia (BPI) belum akan mendorong kinerja emiten berkode saham ADRO itu bergerak lebih baik secara signifikan.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 18 Februari 2020  |  20:52 WIB
Direktur Teknik PT Tanjung Power Indonesia Kim Sangjong (dari kiri), Komisaris Mustiko Bawono dan Direktur PT Adaro Power Adrian Lembong mendiskusikan perkembangan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Tanjung Kalimantan Selatan, Rabu (13/3/2019). - Bisnis/Nurul Hidayat
Direktur Teknik PT Tanjung Power Indonesia Kim Sangjong (dari kiri), Komisaris Mustiko Bawono dan Direktur PT Adaro Power Adrian Lembong mendiskusikan perkembangan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Tanjung Kalimantan Selatan, Rabu (13/3/2019). - Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Diversifikasi bisnis emiten pertambangan PT Adaro Energy Tbk., melalui lini bisnis pembangkit listrik dinilai belum mampu mendorong kinerja perseroan secara signifikan.

Analis Samuel Sekuritas Desi Lapagu mengatakan bahwa diversifikasi melalui entitas anak usaha PT Tanjung Power Indonesia (TPI) dan PT Bhimasena Power Indonesia (BPI) belum akan mendorong kinerja emiten berkode saham ADRO itu bergerak lebih baik secara signifikan.

“Karena total penyerapan kedua PLTU tersebut juga hanya sebesar 8 juta ton per tahun atau hanya 14 persen dari total produksi ADRO secara tahunan,” ujar Desi saat dihubungi Bisnis, Selasa (18/2/2020).

Dia juga memproyeksikan produksi batu bara tahun ini yang cukup moderat di kisaran 54 juta ton hingga 58 juta ton juga akan membuat top line revenue kurang lebih flat pada tahun ini.

Kendati demikian, dia menilai produksi ADRO tahun ini yang sebesar 58 juta ton sudah sesuai ekspektasi di tengah tren batubara global yang sedang melemah.

Di sisi lain, Desi justru melihat entitas anak usaha ADRO yaitu Kestrel Coal Mine (Kestrel) yang akan mendorong net profit perseroan dalam jangka panjang. Kestrel sendiri berfokus pada coking coal dengan base client adalah perusahaan baja.

Pada tahun lalu, Kestrel mencatatkan produksi batu bara yang dapat dijual sebesar 6,76 juta ton, atau tumbuh 42% yoy. Kestrel juga dapat mencatat rekor tertinggi volume penambangan batu bara run-of-mine (ROM) dalam tambang bawah tanah.

Namun, dengan pelemahan ekonomi yang terjadi di China serta posisi Negeri Panda itu sebagai salah satu produsen baja terbesar dunia, maka kemungkinan demand coking coal yang diharapkan dapat menjadi offset pelemahan thermal coal, dapat terpengaruh secara negatif juga.

“Ekspor ADRO ke China yang secara rata-rata sebesar 12%-13% kami ekspektasi akan cukup terpengaruh secara signifikan dari akan terlihat pada laporan kinerja kuartal pertama tahun ini. Di sisi lain, sales ADRO ke domestik yang sebesar 20% kami harap dapat dipertahankan untuk meng-offset potensi pelemahan demand batubara dari China,” jelas Desi.

Adapun, pada perdagangan Selasa (18/2/2020) saham ADRO parkir di Rp1.330 per saham, menguat 0,76 persen. Saham telah bergerak turun 14,47 persen sepanjang tahun berjalan 2020.

Desi menargetkan harga saham ADRO sebesar Rp1.600 per saham sehingga dia merekomendasikan buy dengan upside potensial kurang lebih 20%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

adaro
Editor : M. Taufikul Basari
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top