Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Avrist Asset Management Yakin Reksa Dana Saham akan Berbalik Positif

Head of Investment Avrist Asset Management Farash Farich mengatakan mereka akan fokus membeli saham dengan fundamental dan valuasi yang baik sebagai strategi manajemen risiko portofolio reksa dana saham mereka.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 31 Januari 2020  |  06:44 WIB
Pengunjung berada di sekitar layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Rabu (29/1/2020). JIBI/Bisnis - Himawan L Nugraha
Pengunjung berada di sekitar layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Rabu (29/1/2020). JIBI/Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA - PT Avrist Asset Management mengaku masih meyakini kinerja reksa dana saham akan berbalik menjadi positif, meskipun data year to date per 27 Januari 2019 IHSG masih menunjukkan kinerja negatif di angka -3,75%.

Head of Investment Avrist Asset Management Farash Farich mengatakan mereka akan fokus membeli saham dengan fundamental dan valuasi yang baik sebagai strategi manajemen risiko portofolio reksa dana saham mereka.

“Diharapkan imbal hasil jangka panjang menjadi optimal walaupun dalam jangka pendek tetap akan ada fluktuasi,” tambahnya saat dihubungi Bisnis, Kamis (30/1/2020).

Di sisi lain, Farash melihat reksa dana pendapatan tetap sejauh ini sangat menjanjikan. Menurutnya, kinerja obligasi sedang sangat positif apalagi didukung dengan inflow asing yang besar.

“Ini inline dengan emerging markets. Yield [obligasi] 10 tahun kita sudah lebih rendah dari Mexico dan Brazil namun masih lebih tinggi dari India dan Rusia,” tutur Farash.

Dia optimistis tingkat imbal hasil masih bisa turun kembali pada tahun ini, mengingat yield surat utang pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun juga turun 1,2 bps hingga 1,62% pada Rabu (29/1/2020).

Baca Juga : Harga Emas Hari Ini

Hal ini ditambah faktor lainnya seperti indeks dolar AS yang juga melemah serta kesepakatan dagang fase pertama antara AS-China beberapa waktu lalu.

“Itu faktor yg mendorong inflow ke rupiah bond,” katanya.

Di sisi lain, strategi Kementerian Keuangan dalam lelah Surat Berharga Negara yang cenderung tidak front loading serta sikap BI yang membeli SBN untuk keperluan operasi moneter di masa mendatang juga turut mendorong kenaikan harga.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

reksa dana
Editor : M. Taufikul Basari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top