Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pound Sterling Siap Tutup 2019 di Zona Hijau

Analis PT Monex Investindo Futures Faisyal mengatakan dalam publikasi risetnya bahwa pound sterling berpeluang melanjutkan relinya yang telah berlangsung dalam beberapa perdagangan terakhir dipicu oleh greenback yang lebih lemah.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 31 Desember 2019  |  14:46 WIB
Euro, dolarHong Kong, dolar AS, yen Jepang, Pound sterling, dan yuan China. - Reuters/Jason Lee
Euro, dolarHong Kong, dolar AS, yen Jepang, Pound sterling, dan yuan China. - Reuters/Jason Lee

Bisnis.com, JAKARTA - Pound sterling melanjutkan penguatannya pada perdagangan Selasa (31/12/2019), berpotensi menutup akhir tahun ini berada di zona hijau seiring dengan sentimen tren pelemahan dolar AS di pengujung tahun dan komentar Presiden Komisi Eropa terkait perpanjang batas waktu Brexit.

Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 14.21 WIB, pound sterling di pasar spot bergerak menguat 0,03% menjadi US$1,3117 per pound sterling. Sepanjang tahun berjalan, pound sterling telah bergerak menguat 2,8% melawan dolar AS. 

Analis PT Monex Investindo Futures Faisyal mengatakan dalam publikasi risetnya bahwa pound sterling berpeluang melanjutkan relinya yang telah berlangsung dalam beberapa perdagangan terakhir dipicu oleh greenback yang lebih lemah.

Tercatat, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang utama bergerak melemah 0,04% menjadi 96,7.

Selain itu, pernyataan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen yang mengatakan bahw Uni Eropa mungkin perlu untuk memperpanjang batas waktu keluarnya Inggris dari Uni Eropa yang telah ditetapkan pada 31 Januari 2020.

Ursula menilai pihaknya kemungkinan membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk bernegosiasi lebih lanjut terkait hubungan dagang baru dengan Inggris sehingga memberi harapan pasar Inggris bisa mendapatkan Brexit dengan kesepakatan.

Baca Juga : Harga Emas Hari Ini

Di sisi lain, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson telah membuat undang-undang agar Inggris dapat keluar dari Uni Eropa dengan batas waktu yang sudah ditentukan dan tidak dapat diundur kembali, dengan atau tanpa kesepakatan perdagangan apapun dengan Uni Eropa.

Sebagai informasi, batas waktu keluarnya Inggris dari Benua Biru telah diundur sebanyak dua kali dalam tahun ini. Adapun, proses Brexit yang berlarut-larut telah memposisikan ekonomi Inggris dan Uni Eropa berada di ketidakpastian dan terancam terus melemah.

“Secara teknikal, GBPUSD berpeluang bergerak naik selama harga masih konsisten bergerak di atas indikator moving average 50-100-200 di dalam grafik satu jam,” ujar Faisyal seperti dikutip dari publikasi risetnya, Selasa (31/12/2019).

Faisyal memproyeksi, level resisten terdekat pound sterling berada di US$1,3179 per pound sterling dan menembus ke atas dari level tersebut berpeluang memicu kenaikan lanjutan ke level US$1,3220 per pound sterling sebelum menargetkan resisten kuat di US$1,3280 per pound sterling.

Sebaliknya, jika pound sterling berbalik melemah, maka level support terdekat berada di US$1,3090 per pound sterling dan menembus ke bawah dari level tersebut berpotensi mendorong penurunan lanjutan ke US$1,3040 per pound sterling sebelum menargetkan support kuat di US$1,2980 per pound sterling.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kurs pound sterling
Editor : M. Taufikul Basari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top