Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ekspor China Loyo, Harga Minyak Gagal Menguat

Awal pekan yang suram ini datang setelah data bea cukai China pada Minggu (8/12/2019) mengumumkan bahwa ekspor Negeri Panda pada November turun 1,1% dari tahun sebelumnya.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 09 Desember 2019  |  17:43 WIB
Sebuah pompa minyak terlihat saat matahari terbenam di luar Scheibenhard, dekat Strasbourg, Prancis, 6 Oktober 2017. - REUTERS/Christian Hartmann
Sebuah pompa minyak terlihat saat matahari terbenam di luar Scheibenhard, dekat Strasbourg, Prancis, 6 Oktober 2017. - REUTERS/Christian Hartmann

Bisnis.com, JAKARTA – Harga acuan minyak mentah melemah pada Senin (9/12/2019), setelah ekspor China tercatat turun dalam 4 bulan berturut-turut.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak pengiriman Januari 2020 melemah 0,46% atau 0,27 poin ke level US$58,93 per barel, pukul 14:57 WIB, sedangkan harga minyak mentah Brent turun 0,31% atau 0,20 poin menjadi US$64,19 per barel.

Awal pekan yang suram ini datang setelah data bea cukai China pada Minggu (8/12/2019) mengumumkan bahwa ekspor Negeri Panda pada November turun 1,1% dari tahun sebelumnya, berseberangan dengan ekpektasi kenaikan 1% dalam jajak pendapat Reuters.

Kendati data lain menunjukkan impor minyak mentah China melonjak ke rekor, pasar tetap gelisah bahwa pertikaian dagang AS dan China telah menghambat pertumbuhan global dan permintaan minyak.

“China jelas tidak kebal terhadap tarif dagang AS atau perlambatan yang tersisa pada ekonomi global yang lebih luas,” kata Jeffrey Halley, analis pasar di OANDA seperti dikutip dari Reuters, Senin (9/12/2019).

Washington dan Beijing telah mencoba untuk menyepakati perjanjian dagang yang akan mengakhiri perang tarif. Namun, detail mengenai kunci negosiasi masih menjadi pembicaraan dalam beberapa bulan terakhir.

Asisten Menteri Perdagangan China Ren Hongbin pada Senin (9/12/2019) mengatakan, Beijing berharap sebuah kesepakatan dengan AS dapat terealisasi secepat mungkin.

Penurunan pada Senin juga bertentangan dengan tanda-tanda pada pekan lalu bahwa China melonggarkan sikapnya dalam sengketa perdagangannya dengan AS, mengkonfirmasi penghapusan tarif impor untuk beberapa pengiriman kedelai dan babi.

Kesepakatan OPEC+

Selain itu, pelemahan harga minyak juga mengakhiri laju yang cepat dalam beberapa sesi sebelumnya karena ekspektasi kesepakatan pembatasan produksi OPEC+.

Pada Jumat (6/12/2019), OPEC+ sepakat untuk memperdalam pengurangan produksi dari 1,2 juta barel per hari menjadi 1,7 juta bph, merepresentasikan sekitar 1,7% dari produksi global.

Goldman Sachs dalam sebuah catatan menyebutkan, keputusan tersebut merealisasikan perubahan penting dalam strategi mengelola ketidakseimbangan fisik jangka pendek, daripada mencoba untuk memperbaiki ketidakseimbangan jangka panjang melalui komitmen terbuka.

Namun, produksi AS telah melonjak sejak pemotongan OPEC + pertama kali diperkenalkan pada 2017 dalam upaya untuk mengeringkan kelebihan pasokan yang telah lama membebani harga. Produksi Amerika telah meningkat bahkan ketika jumlah bor menurun, mencerminkan ekstraksi sumur yang lebih efisien.

Perusahaan jasa energi Baker Hughes mengatakan dalam laporan pengeboran mingguan yang diawasi ketat pada pekan lalu, jumlah pengeboran AS turun dalam seminggu hingga 6 Desember.

Perusahaan pengeboran memotong lima rig minyak, meninggalkan total 661, terendah sejak April 2017.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak ekonomi china
Editor : Ana Noviani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top